NGOBROLIN SOAL BUDAYA HYPEBEAST

 

Jakarta – Sudah beberapa hari terakhir, redaksi a la secangkir kopi jbkderry.com pengen nulis tentang budaya hypebeast. Bukan sesuatu yang baru sih, karena di Indonesia wacana soal budaya hypebeast sudah banyak dibahas sejak tahun 2017.

Bahkan di dunia, budaya hypebeast kabarnya telah dimulai sejak tahun 2005. Tapi baru booming di tahun 2016 lalu, dan semakin meroket sejak tahun 2018 lalu.

Lantas kenapa jbkderry.com tertarik membuatnya jadi artikel? Setelah era istilah metroseksual yang nampak sirna, kini yang nampak mencuat adalah budaya hypebeast a la Atta Halilintar, Raffi Ahmad dan Saaih Halilintar.

Pertandanya apa sih budaya hypebeast? Secara “kamus umum”, hypebeast adalah gaya anak-anak muda yang keren dan trendy, dan biasanya memang dilakukan sama anak-anak muda yang laki-laki, serta acap kali jadi inspirasi trend buat lingkungan sekitarnya.

Tapi ada juga dari kaum cewek, misalnya selebriti Kylie Jenner.

Salah satu indikasinya adalah dengan menggunakan merek-merek tertentu seperti Off-White, Palace, Bape dan Supreme. Di suatu kesempatan jbkderry.com sempat melihat komentar Atta Halilintar dalam mengembangkan produk-produk cloting-nya dari merek-merek yang identik dengan budaya hypebeast tersebut.

Dengan brand AHHA, Atta menyebut secara bahan dan model, produk-produk cloting-nya gak kalah sama produk hypebeast dari luar negeri tersebut, namun dibanderol dengan harga yang jauh lebih terjangkau mulai dari kisaran ratusan ribu rupiah.

Merek-merek lain yang identik dengan budaya hypebeast adalah Balenciaga, Gucci dan Louis Vuitton. Soal Balenciaga misalnya yang dimiliki Raffi Ahmad harganya di angka Rp 15 juta per pasang.

Merek-merek lain yang masuk dalam kategori perburuan anak-anak muda hypebeast adalah Stussy, Crook, Castles, Huf, Vans dan Alife.

Jika ditarik kesimpulan mudahnya, budaya hypebeast adalah budaya konsumsi cara berpakaian dari anak-anak muda untuk kelihatan mewah dan nampak penuh prestise. Termasuk melalui aksesori yang mereka kenakan.

Meski umumnya dilakukan oleh anak-anak muda, tapi bukan berarti pada minta sama orang tua. Anak-anak muda yang menganut budaya hypebeast ini biasanya adalah anak-anak muda yang kreatif dan telah bisa menghasilkan pendapatan sendiri di usia yang terhitung masih muda dan belia.

Contoh paling mudah adalah Saaih Halilintar yang bisa membeli MPV mewah di atas 1 miliar rupiah di usia 16 tahun dari uang yang telah dihasilkannya sendiri.

Meski gak semuanya juga begitu, ada juga yang tetap bergantung pada orang tua atau menggunakan barang-barang dari saudaranya yang lebih tua.

Awrait, itu saja dulu, gaeezzz. Mudah-mudahan informasi ringan a la secangkir kopi ini ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s