RUTE NAIK SEPEDA TERBERAT SEJAUH INI #TOBATGAKMAULAGI

Bogor – Pukul 07:10 WIB 14 April 2019, lima orang komunitas goweser Kopi Ireng berangkat merealisasikan misi yang belum tuntas, Leuwi Hejo di Bogor. Lima orang itu terdiri dari empat orang dewasa yang telah menikah dan beranak-pinak, serta satu orang remaja under 20 tahun.

Buat kelimanya, rute ini semi gak mungkin, karena akses menuju lokasi tujuan itu bukan main tantangannya. Mulai dari tanjakan panjang dengan level kemiringan yang sanggup menciutkan nyali, jalur turunan  yang lumayan menukik dan menguji keberanian, tikungan-tikungan cepat, beberapa titik jalan yang rusak yang ditandai dengan kondisi becek dan bebatuan, serta yang tidak kalah menekan di hari  itu adalah kondisi cuaca yang sangat terik.

Bahkan om Supri yang merupakan mantan atlet nasional bidang tarung derajat selama 12 tahun pun mengakui, rute kali ini sungguh berat. Raihan, pemuda under 20 tahun yang selalu antusias sempat berkunang-kunang matanya saat melibas rute ini.

Tiga lainnya; pak Hafid, om Naryo dan Derry Journey saling bergantian mengatur laju yang bisa menghemat tenaga, tapi kali ini strategi itu tidak berjalan mulus.

Beberapa kali pak Hafid mengalami kaki kram, om Naryo beberapa kali mendorong, sementara Derry Journey sempat jeda di sebuah titik dimana sebelumnya ia masih sanggup melaluinya.

“Kalau nanti pulangnya, kita memang sudah tidak sanggup, mending nanti kita patungan sewa pickup untuk antar kita setidaknya sampai rute bonus turunan,” kata Derry Journey.

“Setuju, paling seratus ribu maulah,” kata om Naryo.

Dibutuhkan waktu 4 jam 15 menit untuk menempuh perjalanan bersepeda dengan jarak sekitar 30 km (berdasarkan Google Maps) itu. Dan mohon, jangan tanya bagaimana pengalaman sepedaan kali ini.

“Rasanya, cukup kali ini saja. Setidaknya sudah pernah mencoba,” demikan kesepakatan kelimanya pesepeda di hari itu.

Jika masih sangsi, silakan coba sendiri ke sana. Terserah mau naik motor atau mobil, tapi sarannya jangan naik sepeda. Berat, bahkan Dilan pun disarankan tetap naik CB jadulnya ke sana.

Lantas apakah hanya mereka berlima yang bisa sepedaan ke Leuwi Hejo? Ternyata enggak, sekitar 1 km sebelum sampai Leuwi Hejo ada rombongan sepeda, dimana salah satunya sudah kategori aki-aki. Dan saat mau shalat Dzuhur, kelimanya bersua dengan pasangan suami istri yang gowes dari Cikarang, Bekasi.

“Busyet,” kelima anggota goweser Kopi Ireng bersuara, takjub.

Sang suami usianya 49 tahun dan istrinya 42 tahun, dan mereka berdua menempuh perjalanan sekitar 51,6 km untuk menuju ke Leuwi Hejo dari kediamannya.

Lantas, apakah tidak ada kesan sama sekali dari sepedaan kali ini? “Ya, selain sangat melelahkan, sepedaan kali ini sangat menguji keteguhan dan kekuatan hati untuk mencapai tujuan. Untuk sampai ke Leuwi Hejo dan saat pulangnya, saya sempat berhenti karena kecapean, sempat pula dorong di tanjakan dan turunan. Sepedaan ke Leuwi Hejo mengingatkan pada alur hidup di bumi manusia, tentang seberapa beratpun tantangan yang dihadapi, jangan pernah berhenti membumikan tujuan yang diharapkan. Kalau gak bisa gowes, ya dorong. Kalau kehabisan napas dan kecapean, yah, berhenti. Kalau sudah siap lagi, lanjutkan lagi perjalanan. Pokoknya, jangan berhenti, karena setelah berhasil menaklukkannya, rasa puasnya tiada tara,” kata Derry Journey.

Awrait, sampai ketemu lagi di cerita dunia gowes berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s