MOMEN PALING TEPAT CEBONG DAN KAMPRET BERDAMAI #MASUKANSECANGKIRKOPI

sumber image: http://redaksiindonesia.com

Jakarta – Jika mengacu data-data hasil Quick Count setelah jam 3 sore 17 April 2019, semestinya bisa menjadi momen yang paling tepat untuk mengakhiri momen perdebatan serta permusuhan kaum cebong dan kampret.

Kenapa bisa begitu? Jawaban sederhana, dengan terpilihnya kembali Jokowi sebagai Presiden RI (berdasarkan data QC), maka lelaki asal Solo kelahiran 21 Juni 1961 itu tidak bisa lagi berdasarkan Undang-Undang yang berlaku untuk kembali mencalonkan diri pada tahun 2024, dimana batas masa kemimpinan Presiden RI hanya boleh dua periode.

Itu berarti, para pendukung calon presiden 02, Prabowo Subianto, sudah semestinya membuka halaman baru untuk mulai menyusun strategi-strategi anyar sebagai upaya pemenangan jagoannya pada Pilpres di tahun 2024.

Mengapa? Dengan strategi yang sudah ada terbukti, Prabowo Subianto sudah tiga kali kalah dalam pemilu pemilihan Presiden RI, yaitu pada tahun 2009, 2014 dan 2019. Diperlukan strategi-strategi baru agar kans kemenangan ke depan bisa lebih besar.

Bahkan jika memperbandingkan data 2014 dan hasil QC 2019, sebenarnya terjadi penurunan angka persentasi pemilih dari kisaran 47% ke angka 44 – 46%. Hal ini sedianya tentu menjadi PR ke depan, mengingat sebagaimana banyak digembar-gemborkan, Prabowo Subianto kembali hendak maju pada pilpres tahun 2024.

Dengan demikian, seyogyanya Prabowo Subianto dan para pendukungnya sudah mengalihkan fokus perhatian dan tindakan, serta harus berani melupakan upaya permusuhan dengan para kaum kecebong pendukung Joko Widodo. Lebih baik pikiran dan tenaga yang ada dipakai untuk dipakai hal-hal yang konstruktif, positif, serta upaya-upaya lainnya untuk meraih simpati positif masyarakat luas.

Harus berani melupakan Joko Widodo dan para pendukungnya, karena sudah tidak signifikan dan krusial lagi untuk ditentang. Kenapa? Karena tidak ada gunanya juga terus merongrong kekuasaan sekarang, bahkan jika ada blunder terbesar yang dilakukan Joko Widodo dan bisa mendorong upaya impeachment sekalipun, mengingat sesuai UUD tentu bukan Prabowo Subianto yang akan menggantikan posisi Joko Widodo jika itu pun terjadi.

Lima tahun ke depan hingga tahun 2024 bukan waktu yang lama, silakan persiapkan diri. Sampai ketemu lima tahun ke depan, redaksi secangkir kopi jbkderry.com berharap di tahun 2024 akan muncul lagi lawan baru yang sepadan untuk menguji eksistensi dan reliabilitas Prabowo Subianto, misalnya Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat saat ini.

Sampai ketemu di tahun 2024.

Sebagai saran tambahan kepada pemerintah dan badan pemerintahan yang memiliki otoritas mengubah skema dan aturan main UU Pemilu, adalah baiknya ambang batas partai pengusung bisa diturunkan.

Menarik pandangan Effendi Gazali di kanal YouTube Raditya Dika, andai saja seluruh partai yang berhasil lolos ke Senayan tahun ini bisa mengusung jagoannya masing-masing di 2024, sehingga tidak ada lagi konflik 100% seperti fenomena pilpres di tahun 2014 dan 2019.

Bagusnya, kalau ada 3 sampai 5 calon seperti pemilu di Indonesia tahun 2004, biar seru dan masyarakat tidak perlu lagi berhadap-hadapan seperti lima tahun terakhir (2014 – 2019).

Sama satu lagi, kalau bisa jangan lagi disatukan momen pilpres dan pemilihan legislatif provinsi dan kabupaten/kota, karena korelasinya juga terkesan kejauhan. Kasihan juga petugas-petugas di setiap KPPS yang harus bekerja ekstra panjang, takut mereka kelelahan.

Terima kasih dan sekian. Semoga ada manfaatnya…

#JanganBaper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s