LIBURAN MEWAH KAUM KUSAM #KISAHSEPEDAAN21APRIL2019

Bogor – Judul artikel “Liburan Mewah Kaum Kusam” ini diambil dari komen om Tim di WAG komunitas gowes Kopi Ireng, Minggu 21 April 2019.

Komen yang menarik buat dijadikan judul artikel kali ini. Tujuh goweser di hari itu; om Kis, Ndan Mul, pak Hafidz, pak Gatot, pak Naryo, pah Puh dan Derry Journey, memang bukan representasi kaum berpunya yang liburan jauh apalagi ke luar negeri saat long weekend (17 – 21 April 2019), hanya sekadar berlibur agak menyusahkan diri dengan melintasi rute-rute yang cukup sulit saat bersepeda.

Tapi gak susah-susah amat juga ketujuhnya, minimal jadi representasi kelas menengah yang punya rumah sendiri (gak ngontrak) dan berpenghasilan.

Ya, sederhananya paslah dengan komen om Tim yang jadi judul artikel ini. Dan berikut cerita keseruan sepedaan tujuh orang kaum kusam di hari itu…

Tidak ada cerita yang luar biasa dalam kurun waktu dua hingga tiga jam pertama sepedaan di hari itu. Malah lebih banyak berhentinya, lebih banyak dibanding biasanya.

Paling yang cukup spesial di hari itu adalah sepeda lipat “daun” punya Ndan Mul yang membuat empunya cukup cepat ketimbang biasanya. Nampaknya di hari itu, Ndan Mul dapat momen tunggangan yang sesuai dengan dirinya.

Kejadian baru dimulai selepas pukul 10 pagi waktu setempat. Ndan Mul tertarik mencoba trek baru, sebelum jembatan longsor menuju akses ke Leuwi Asih dan Leuwi Hejo. Menurut om Kis, Ndan Mul mungkin trauma dengan jalur tanjakan kalau mereka memaksakan di akses jalan reguler.

Di situlah cerita dimulai, akses jalanan yang dilalui tujuh orang goweser Kopi Ireng itu bukan akses jalan yang mulus, malah terhitung cukup parah yaitu jalur bebatuan dan menanjak.  Alhasil lebih banyak dorongnya ketimbang gowes.

Sakit beratnya dari awal pun sudah sempat kejadian. Ndan Mul yang coba gowes di jalur bebatuan yang menanjak sempat terjatuh, bahkan terjungkal dan menggelinding hingga sempat masuk ke semak-semak.

Setelah itu, ketujuhnya lebih banyak mendorong, karena ban sepeda memang sulit dapat traksi di trek berbatu itu, dan kalau jatuh resikonya lebih bahaya lagi, karena beberapa bagian bebatuannya ada yang cukup tajam dan menonjol ke atas jalan.

Setelah lepas dari sekilometer, om Kis pun mengeluh, “Gak percaya sih, masalahnya lutut kanan ane masih bermasalah, bang.”

Ndan Mul pun merasa gak enak, dan ketujuhnya pun berhenti di salah satu areal perkebunan yang cukup tinggi dari permukaan laut. Di ujung pandangan mata mereka nampak setara dengan ujung-ujung berapa bukit di sekitarnya.

Ketujuh goweser Kopi Ireng itu pun seperti disorientasi, mau turun lagi malas, mau lanjutkan ke depan enggan. Barulah setelah sekitar 10 menit kemudian, dari atas nampak beberapa goweser turun, termasuk seorang bapak berusia 67 tahun dari Depok.

View this post on Instagram

Tersesat dan ketemu teman baru 😅👌👍

A post shared by derry journey (@derry.journey) on

Sempat berbincang sejenak dengan beberapa di antara mereka, semangat ketujuhnya pun kembali naik untuk melanjutkan rute ke depan. Lantas bagaimana kondisi trek di depan yang menanti mereka?

“Bukan maen,” kalau istilah Betawi yang pernah Derry Journey dengar, yang kira-kira berarti, “Luar biasa.”

Mereka harus melewati jalur yang benar-benar sepi, melintasi jalan berbatu di antara pepohonan tinggi termasuk beberapa deretan pohon pinus. Di satu waktu juga ada jembatan kayu yang sudah rapuh di beberapa sisinya, lalu ada sungai di bagian sisi kirinya, dan kawasan persawahan di sisi kanannya yang mengingatkan pada suasana Ubud di Bali.

Rute sepedaan kali ini rasanya cocok jadi lokasi syuting film bertema romantis kalau pagi sampai sore, tapi kalau senja hingga malam rasanya lebih cocok jadi lokasi film horor.

Terlepas dari hal itu, rasanya puas banget akhirnya buat ketujuhnya melintasi rute itu. Sepeda mereka rasanya sudah laksana “pintu kemana saja Doraemon” yang bisa mengantarkan mereka pada hal-hal baru, pada petualangan-petualangan anyar yang tentunya menyenangkan.

Akhir perjalanan seru di rute itu adalah ketujuhnya harus memanggul sepeda menyeberangi sungai kecil buat sampai ke jalan jalur utama. Enam di antaranya tetap memakai sepatu melintasi sungai, hanya Derry Journey yang lepas sepatu dan kaos kaki terus memasukkannya ke tas panggul bawaannya. Alhasil dia pun jadi satu-satunya yang sempat tergelincir dan jatuh hingga celananya basah.

Ya, itu saja perjalanan ketujuh goweser Kopi Ireng tepat di perayaan Hari Kartini 2019. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir, dan semoga suka dengan artikel kelas secangkir kopi kali ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s