REVIEW FILM ALADDIN: ANTARA KECANTIKAN, UKURAN DADA DAN ADEGAN CIUMAN NAOMI SCOTT

Jakarta – Rabu 22 Mei 2019, Derry Journey menonton Aladdin di Cinema XXI – Cibinong City Mall di jam tayang perdana pukul dua siang, bersama abang Rasy dan Keanu.

Ada tiga alasan menonton film ini; (1) teaser filmnya di IG TV keren banget, (2) kangen dengan akting Will Smith, (3) ngabuburit menunggu jam buka puasa.

Tapi pas nonton, alur ceritanya terasa cukup berbeda dari ekspektasi setelah menonton trailernya. Ternyata ini adalah film musikal, dimana Derry Journey bisa melihat Will Smith bernyanyi dan menari. Jujur, ini bukan sisi “bad boys” yang Derry Journey harapkan di film ini.

Meski demikian sisi ngebanyol Will Smith yang Derry Journey rindukan dari film Hancock (2008) dan Hitch (2005) cukup terbayarkan di Aladdin.

Di luar urusan Will Smith, bagian yang paling menyita perhatian adalah sosok Naomi Scott yang berperan sebagai Puteri Jasmine. Aktris berkebangsaan Inggris 26 tahun lalu ini tampil jauh lebih cantik ketimbang jadi Ranger Pink di Power Ranger yang dirilis tahun 2017.

Faktor make-up yang pas dengan dandanan a la busana Puteri Kerajaan khas Disney yang seksi berhasil menjadi magnet pemikat film berdurasi 2 jam 8 menit ini.

Sepanjang film, kualitas puasa Derry Journey pun alhasil sedikit banyak terganggu, melihat degup jantung di bagian dada Naomi Scott, sambil membayangkan ini ukurannya yang cukup gede atau karena faktor pakaiannya yang berhasil mengumbar bagian “sekwilda”.

Momen yang kurang tepat dari film ini mengajak abang Rasy dan Keanu adalah bagian ciuman Aladdin dan Puteri Jasmine. Pada saat di bagian ciuman yang kedua jelang akhir film, Keanu yang masih enam tahun spontan nyeletuk, “Wuih, ciuman. Pasti nikah.”

Ya, sudahlah, semoga jadi pembelajaran awal kehidupan menuju dewasa buat Keanu.

Untuk pesan moral dari film ini yang Derry Journey tangkap yaitu; (1) Jadilah dirimu sendiri, (2) Harta dan kekuasaan bisa mengubah diri kita di zona nyaman, meski konsekuensinya kita bisa terus hidup dalam kepura-puraan demi melindungi apa yang kita inginkan, (3) Tapi kembali menjadi diri sendiri dengan segala keterbatasan akan membuat kaki lebih ringan untuk melangkah, karena ya jauh lebih mudah menjadi diri sendiri seperti Aladdin ketimbang menjadi Pangeran Ali dari sebuah kerajaan rekaan Jin (Will Smith).

Tinggal kembali pada interpretasi masing-masing penonton, pengen jadi Aladdin yang seperti apa dari film ini…

Terima kasih telah menyempatkan diri untuk mampir. Semoga ada manfaatnya artikel khas secangkir kopi kali ini…

One Reply to “REVIEW FILM ALADDIN: ANTARA KECANTIKAN, UKURAN DADA DAN ADEGAN CIUMAN NAOMI SCOTT”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s