MERESAPI ARTI BUDAYA NYECEP DI CIAMIS BERSAMA SECANGKIR KOPI

Ciamis – Selasa 11 Juni 2019 selepas Subuh, abang Rasy dan Keanu menjalankan kewajiban khitanan di klinik Al-Ghani Indihiang, Tasikmalaya.

Kalau Anda memasukkan kata kunci “Klinik Al-Ghani Indihiang” di mbah Google, akan ketemu informasi di laman depan jika klinik khitanan ini termasuk yang paling populer dan banyak direkomendasikan di antara masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya.

Kalau dari Sindangrasa – Ciamis jaraknya 18,6 km berdasarkan info Google Maps, dan butuh waktu perjalanan sekitar 34 menit dengan bermobil.

Di kalangan masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya, khitanan di klinik Al-Ghani Indihiang terkenal dengan pendekatan yang baik ke anak-anak yang akan dikhitan, jadi umumnya mereka menjalaninya dengan suka cita dan bersedia masuk ke ruang “potong” sendiri tanpa ditemani orang tuanya.

Prosedur pendaftarannya harus dilakukan beberapa hari sebelumnya untuk ambil formulir. Jika sudah di hari “H”, sangat disarankan datang sedini mungkin. Berdasarkan informasi dari seorang keluarga dekat di Ciamis yang anaknya juga khitanan di tempat itu beberapa bulan lalu, “Sebaiknya berangkat setelah shalat Subuh, biar dapat nomor antrian lebih awal, karena siapa pun yang datang lebih cepat bisa dapat nomor lebih awal.”

Berdasarkan anjuran itu, selepas Subuh mengendarai Darth Vader, abang Rasy dan Keanu pun diantar khitanan bersama kedua orang tuanya, serta paman bundanya, uwa Agus.

Pintu masuk ke ruang potong berbeda dengan pintu keluar, dan anak yang akan dikhitan harus masuk sendiri. Orang tuanya bisa melihat proses khitan melalui layar televisi di dekat pintu mereka keluar nantinya.

Prosesnya cepat, hanya beberapa menit (kurang dari lima menit). Cepetlah pokoknya.

Tuntas menjalankan prosesi khitanan yang cepat dan alhamdulillah berjalan lancar tanpa persoalan berarti, karena ternyata abang Rasy dan Keanu bisa tegar jalan sendiri ke pintu keluar sebelum dijemput sama orang tuanya dan dibopong ke Darth Vader.

Perjalanan dari klinik Al-Ghani Indihiang kembali ke rumah kakek nenek mereka di Sindangrasa – Ciamis agak cepat, ngebut dikitlah karena khawatir biusnya di abang Rasy dan Keanu habis. Kekhawatiran ini ternyata pun tidak terjadi. Setibanya tiba di rumah kakek neneknya, keduanya cukup anteng.

Persiapan pesta syukuran; gelaran karpet, kue-kue basah tradisional, buah jeruk dan salak, kemasan air meneral, beberapa nampan berisi lauk siap disantap prasmanan oleh setiap tamu yang hadir telah tersuguh. Plus, juga ada banyak plastik kresek yang berisi makanan untuk para tamu undangan yang hadir.

“Di sini ini, kalau khitanan sudah kayak pesta, banyak yang datang termasuk para tetangga maupun keluarga terdekat di sekitar Ciamis,” kata om Otong, saudara ipar ibu Yonna yang kerja sebagai engineer dari sebuah perusahaan terkemuka yang berbasis di Perancis.

Sejak pagi, bergantian tetangga dan keluarga dekat bergantian hadir menengok abang Rasy dan Keanu yang masing-masing ditidurkan di ranjang yang terpisah, dimana bajunya dikasih karet dan tidak berbusana dari pusar ke bawah biar cepat kering jahitan di itunya.

Setiap tamu yang menjengok memberikan amplop yang isinya mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Seketika kedua anak laki berusia enam dan tujuh tahun itu jadi lumayan tajir mendadak. “Pokoknya aku mau langsung beli mainan tiga di Shopee,” kata Keanu.

Ia pun langsung order satu mainan robot dan dua senjata Nerf di marketplace tersebut.

“Di sini memang sudah budaya kalau ada yang khitanan ada yang nyecep,” kata Nenek Ecin, nenek ibu Yonna yang sudah berusia lebih dari 90 tahun tapi masih sehat dan walafiat, serta merupakan yang ditetuakan di Masjid utama di Sindangrasa, Ciamis.

Nyecep itu adalah budaya Sunda, yaitu memberikan uang kepada anak yang baru dikhitan seperti yang dialami oleh abang Rasy dan Keanu.

Pengalaman khitanan di klinik Al-Ghani Indihiang dan tradisi luhur di Sunda Ciamis ini tentu menjadi cerita yang sangat berkesan dalam perjalanan kehidupan abang Rasy dan Keanu ke depan, khususnya transisi awal dari anak bocah menjadi pemuda cilik.

Khan, sudah disunat keduanyanya, gaezzz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s