NAIK MIO TUA DI BUKIT PELANGI DAN MBAK PARKIRAN SEMOK DI CIMORY RIVERSIDE

Bogor – Jumat sore 28 Juni 2019, Mio tua yang karburatornya oprekan itu seperti kehilangan kompresi di tanjakan curam dan panjang selepas Bukit Pelangi – Bogor.

Tidak ada kendaraan lain yang melintas, dan penduduk sekitar pun tumben lagi gak nampak. “Bagaimana kalau skutik tua ini benar-benar kehilangan kompresi dan traksi di tanjakan ini?” gumam Derry Journey dalam hati.

Satu-satunya cara adalah tetap percaya skutik tua ini bisa melaluinya dengan bukaan handel gas model urut, semoga tenaganya masih ada buat dorong ke atas walaupun pelan sekalipun.

Dan berhasil…

Kalau saja Keanu tidak terus-terusan minta ke Cimory Riverside buat isi liburan sekolah yang masih cukup panjang, perjalan sore itu mungkin tidak akan terjadi. Ia sebenarnya minta naik Darth Vader, tapi Google Maps menunjukkan grafik padat untuk akses ke sana, merah dan ada juga merah tua.

Alhasil selepas Shalat Jum’at, berangkatlah ke sana. Keanu dan kakak Oka naik Bumblebee 155 VVA bareng bunda. Sementara abang Rasy dengan ayahnya Derry Journey naik skutik Mio lawas, ini perjalanan terberat dari skutik yang dibeli seken itu setelah Vario 125 digondol maling di kawasan kantor Bupati Bogor pada Agustus 2017 lalu.

Artikel receh kali ingin menceritakan tips sekaligus pengalaman naik skutik lawas ke jalur tanjakan seperti ini.

Meski karburatornya oprekan yang suka ngempos kalau di jalur tanjakan, tapi skutik lawas ini lumayan terawat. Oli mesin diganti per dua bulan (karena cuma dipakai antar anak sekolah), rem-remnya masih oke (sudah ganti kaliper dan selang rem depan beberapa bulan lalu), dan bannya masih terhitung baru (tahun lalu ganti ban depan dan belakang produk dari IRC tubeless).

Dengan modal seperti itu, rasanya Mio lawas ini bisalah sampai ke sana, Cimory Riverside. Buat ngejar performa Bumblebee 155 VVA, beberapa kali Mio Soul lawas keluaran 2011 ini diajak late braking dan speed cornering. Abang Rasy pun suka, dan pas pulangnya Keanu gantian yang ingin merasakan gaya bawa motor a la pembalap jalanan di kota Makassar pada era 1990an.

Setibanya di kawasan jalur Puncak dari pertigaan Jembatan Gadog, antrian kendaraan ke arah Puncak sudah sangat padat, semakin ke atas semakin kusut. Beruntung kami menggunakan motor, kalau naik Darth Vader kelar urusan waktu dan biaya BBM, meski tetap harus hati-hati dan waspada ketika mendahului kendaraan lain, serta mengambil jalur dari arah berlawanan.

Setelah sekitar dua jam perjalanan, Bumblebee 155 VVA dan Mio lawas itu tiba di Cimory Riverside. Kondisinya ramai banget, sangat terasa suasana liburannya. “Ini orang-orang duitnya pada gak habis-habis yah, sudah Lebaran dan daftar anak sekolah masih saja ramai. Kayaknya Sultan makin banyak,” kata bu Yonna.

Masuk ke Cimory Riverside selain ramai sekali, harga-harga jajanannya pada naik. Es krim yang biasanya satu cup Rp 20 ribu dan 2 cup Rp 35 ribu, sekarang naik jadi Rp 25 ribu per cup dan Rp 40 ribu dua per cup. Demikian pula sosis tusuknya naik jadi Rp 20 ribu. Bahkan parkiran motor yang sebelum Lebaran masih Rp 3 ribu sekarang naik jadi Rp 4 ribu.

“Wuih, pada naik semua yah di dalam?!” kata Derry Journey pada seorang petugas parkir yang kebetulan perempuan dengan bodi semok.

Mbak parkir yang semok-semok itu hanya senyum-senyum saja, antara mengiyakan sekaligus menggoda…

“Namanya juga habis Lebaran semuanya juga biasanya pada naik,” kata bu Yonna sekaligus membuyarkan obrolan dengan mbak parkir semok itu.

Itu saja dulu artikel receh kelas secangkir kopi hari ini, gaezzz. Terima kasih sudah mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s