NGOBROLIN THOMAS LUTHI JADI INGAT DANI PEDROSA

Mancanegara – Ngeliat aksi Thomas Luthi di seri ke-8 MotoGP 2019 di Sirkuit Assen – Belanda, Minggu sore 30 Juni, jadi ingat Dani Pedrosa.

Ya, dari kacamata jbkderry.com, ada satu kemiripan antara Thomas Luthi dan Dani Pedrosa yaitu lama berkecimpung di kejuaraan balap dunia, namun posisinya kepada jajaran pembalap “second best”.

Ya, secara prestasi Dani Pedrosa memang lebih mentereng dibanding Thomas Luthi. Selama karir balapnya dari tahun 2001 hingga 2018, Dani Pedrosa pernah mengenyam tiga kali titel juara dunia, sekali di kelas 125cc dan dua kali di kelas 250cc, tapi itu terjadi sudah lama sekali di tahun 2003 – 2005. Setelah itu, Dani hanya tenggelam sebagai pembalap “second best” alias terbaik kedua.

Luthi sendiri memulai kejuaraan balapan dunia setahun setelah Dani, yaitu di tahun 2002. Usia mereka pun mirip, Luthi kelahiran Swiss tahun 1986 (32 tahun) dan Dani kelahiran Spanyol tahun 1985 (33 tahun). Prestasi terbaik Luthi pun sudah terjadi sudah lama sekali, yaitu sebagai juara dunia kelas 125cc di tahun 2005, setelah itu dunia lebih mencatatnya sebagai pembalap “second best” seperti Dani.

Apakah hal ini akan terjadi hingga akhir karir balapnya Luthi seperti pada Dani? Waktu yang pasti akan menjawabnya…

Kembali ke balapan di Sirkuit Assen yang berlangsung 24 lap, Luthi menjalani balapan seperti biasanya, berada di garis terdepan tapi tidak setringginas mantan juara dunia Moto3 Brad Binder yang berusia lebih muda (23 tahun). Beberapa kali ia melebar seperti biasanya.

Dari kacamata jbkderry.com, Thomas Luthi adalah pembalap yang jago seperti halnya Dani Pedrosa, namun keduanya tidak memiliki karakter “killer instinc” yang konstan layaknya Marq Marquez ataupun Valentino Rossi (waktu masih muda).

Pasalnya sejarah MotoGP senantiasa mencatat pembalap-pembalap yang bisa selalu atau setidaknya seringkali mampu menjaga penampilan agresif sepanjang balapan adalah yang punya kans sebagai kampiun, seperti halnya Marquez, Rossi, Doohan dan Casey Stoner.

Hingga seri ke-8 Moto2, Thomas Luthi yang kembali ke Moto2 setelah terdepak dari kerasnya kompetisi MotoGP di tahun 2018, masih berhasil memimpin klasemen pembalap. Di Sirkuit Assen hari itu, ia berhasil finish ke-4, namun sudah cukup menggeser posisi Alex Marquez yang mengalami insiden dengan Lorenzo Baldasari di beberapa lap terakhir jelang finish.

Apakah Thomas Luthi bisa mengikuti jejak keberuntungan mending Nicky Hayden yang bisa jadi juara dunia tahun 2006 meski di-tjap ada posisi “second best”? Mari kita ikuti dari sembilan seri Moto2 2019 yang tersisa.

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir. Semoga artikel kelas secangkir kopi kali ini ada gunanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s