NGOBROLIN SHAFT NARASI EKSYEN A LA KULIT HITAM HOLLYWOOD

Mancanegara – Berkesempatan nonton Shaft (2019) secara streaming di internet, tiba-tiba ingat peran Gina Norris yang diperankan Queen Latifah pada pertengahan tahun 2004 dan 2005.

Narasi ceritanya memang beda. Kalau dulu Gina Norris lebih kayak film drama kehidupan kelas menengah di Amerika dalam dunia usaha, sementara Shaft yang lakon utamanya diperankan oleh Nick Fury, eh, Samuel L. Jackson lebih ke eksyen, tapi tetap ada kesamaannya yaitu datang dari kelas menengah Amrik berkulit hitam.

Dari narasi film Shaft yang berdurasi 1 jam 51 menit, penonton diajak melihat bagaimana komentar John Shaft pada putranya JJ tentang keputusannya untuk bekerja di FBI dengan segala problematikanya. “Begitulah resikonya kalau kerja dengan kulit putih,” kata Shaft saat JJ tengah bermasalah dengan atasannya di FBI.

Diakui atau tidak, di belahan dunia modern dan maju sekalipun, pandangan stereotipe pasti masih ada dan tidak jarang menjadi garis demarkasi dalam hubungan antar manusia. Di negeri kita pun, sampai hari ini masih sangat terasa, apalagi karena skenario politik dan “religi”.

Nonton Shaft menurut jbkderry.com terasa lebih segar ketimbang nonton Escape Plan: The Extractors (2019) yang kayak nonton The Raid versi Hollywood ataupun John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019) yang terlalu mainstream kayak lagi nonton John Rambo di era millenial.

Shaft digarap oleh sutradara Tim Story, dengan narasi cara berpikir kulit hitam yang selama ini kita kenal dari film-film Hollywood, khususnya yang merepresentasikan kehidupan kelas menengah Amerika berkulit hitam.

Ternyata, eh, ternyata, narasi kehidupan kelas menengah kulit hitam ini bukan pertama kalinya dikerjakan oleh Tim Story. Ia pernah mengerjakan Barbershop (2002) yang dibintangi oleh Ice Cube. Tiga tahun kemudian, sekuelnya yang dibintangi Queen Latifah muncul, Barbershop 2: Back in Business (2005).

Oh pantes, narasi kehidupan kelas menengah kulit hitam di film ini bisa mengalir cukup apik. Setidaknya buat penonton yang bosen dengan narasi eksyen film kulit putih yang terlalu mainstream, Shaft adalah pilihan film eksyen Hollywood yang menarik untuk ditonton.

Akting Samuel L Jackson untuk menghidupkan narasi film yang kabarnya budget produksinya mencapai US$ 35 juta ini pun tidak perlu diragukan lagi. Aktor senior berusia 70 tahun ini menurut jbkderry.com ini masih lebih enak dilihat aktingnya ketimbang aktor senior eksyen Hollywood seperti Sly, Arnold ataupun Bruce Willis, apalagi Van Damme dan Steven Seagal yang semakin ke sini cenderung semakin membosankan, begitu begitu saja…

Apalagi sepertinya ada penggunaan teknologi CGI, dimana di awal-awal film kita seolah diajak melihat bagaimana profil dan aksi Samuel L. Jackson waktu muda ketika memerankan tokoh John Shaft di film ini.

Shaft pun tidak semata menjual Samuel L. Jackson, buat yang pengen liat cewek cantik millenial berkulit hitam kelas menengah ada Alexandra Shipp, sahabat JJ sejak kanak-kanak. Alexandra Shipp berperan sebagai Sasha Arias yang bertugas sebagai perawat di sebuah rumah sakit.

JJ dan Sasha sebenarnya saling suka tapi malu-malu, dan penonton pun diajak terbawa suasana emosional, “Kira-kira kapan neeh si JJ nyium Sasha yang cantik itu?”

Untung ada kakek dan ayahnya yang old skool. Di bagian akhir film, kedua Shaft senior itu berujar begini kalau kata orang-orang tua di gang-gang Jakarta, “Udah, tong, Jangan kebanyakan gaya, sosor aje tuh bibir.” (dan kejadian deh yang ditunggu-tunggu penonton, JJ dan Shasa akhirnya cipokan, cuy).

Sasha yang cantik dan cerdas memang jadi salah satu pesona lain dari film Shaft. Selain ada juga Regina Hall yang berperan sebagai Maya, ibu dari JJ dan mantan bini John Shaft yang seksi dan montok. Ya, kalau kata bahasa gaul di Indonesia saat ini, “Mahmud” alias Mamah muda.

Meski situs IMDB hanya memberikan rating 3-bintang dan situs Rotten Tomatoes bahkan lebih kejam lagi hanya kasih rating 1,5 bintang, namun jbkderry.com berani kasih rating 4-bintang untuk film satu ini.

Pokoknya kalau nanti sampai main di layar sinema gak rugilah keluarin duit beberapa puluh ribu rupiah buat nonton film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s