DE OMNIBUS DUBITANDUM: BAHAS SUV SEKALI DALAM SECANGKIR KOPI

Image hanya ilustrasi kelengkapan artikel, gaezzzz.

Jakarta – Saat artikel ini dibuat Sabtu 27 Juli 2019, pameran otomotif tahunan GIIAS di ICE BSD City – Tangerang sehari lagi akan usai.

Ada beberapa catatan dari Derry Journey yang mungkin bisa bermanfaat buat Anda, pengunjung setia media kelas secangkir kopi ini, khususnya soal judul artikel di atas.

Kalau Anda memasukkan kata kunci “De Omnibus Dubitandum” di Google, pasti akan ketemu artinya yakni “Segala sesuatu harus diragukan”, atau kalau dihubungkan ke pameran otomotif tahunan itu sederhananya bisa berarti, “Jangan langsung percaya setiap referensi yang tersaji, sekalipun itu ada KOL, selegram, atau YouTuber paling kondang sekalipun.”

Kamis petang 25 Juli 2019, sebelum Derry Journey rencana pulang meninggalkan GIIAS, seorang kawan lama berkata, “Gw barusan dari booth **** (sensor nama brand) tapi sepi cuma ada dua kursi terisi di ruangan SPK, beda banget situasinya dengan brand satunya lagi ****** (sensor nama brand) yang ramai ruangan SPKnya.”

Nah, nama brand pertama yang disebut kawan pertama tadi seingat Derry Journey sudah menggandeng sekian nama KOL, selegram, dan YouTuber kondang, termasuk para awak media berpengalaman melalui jasa advertorial, tapi keramaian di jagat maya tidak lantas inline atau kontras dengan fakta di lapangan.

Siapa yang salah dengan situasi ini, mengapa nilai promosi yang menggandeng sekian selebritis jagat maya itu kurang berjalan? Apakah karena brand dan produknya belum mendapat hati di masyarakat? Ataukah, memang audiens dari para KOL itu bukan masuk dalam target market sang brand dan produk? Atau justru para audiens pada selebritis jagat maya itu paham mana konten informasi orisinil dan mana yang informasi pesanan bayaran?

Silakan Anda berikan jawaban masing-masing…

Di benak Derry Journey, justru masih kepikiran pandangan seorang KOL kondang jika “in between model” seperti Hyundai Tucson adalah sebuah posisi yang ambigu buat calon konsumen yang budgetnya gak buat cukup beli Hyundai Santa Fe.

Mending beli Mazda CX-3 yang dianggapnya sekelas. Faktanya kalau Anda memasukkan kata kunci “Hyundai Tucson rivals” di Google akan ketemu rival Hyundai Tucson bukan Mazda CX-3 tapi Mazda CX-5 yang secara perbandingan ukuran dimensi lebih sekelas.

Sebuah pemandangan yang cukup berbahaya mengancam garis gawang, eh kita gak lagi ngomongin soal sepak bola yah?! Maksudnya pandangan yang cukup berbahaya dalam soal edukasi audiens.

Artinya jika “in between model ” adalah sebuah strategi yang kurang tepat di Indonesia, maka premisnya “Kalau Hyundai Palisade masuk Indonesia mending beli Palisade ketimbang Santa Fe, atau kalau di Mazda; daripada beli Mazda CX-5 mending langsung Mazda CX-9?!”

Untuk mempertajam analisa a la secangkir kopi kali ini, silakan masukkan kata kunci perbandingan dimensi ketiga nama model kendaraan tersebut (Hyundai Tucson, Mazda CX-3 dan Mazda CX-5) di Google supaya bisa melihat langsung mengukur akurasi data dan pernyataan di atas.

Jika mengacu pada data dari JATO, Hyundai Tucson berada di segmen Compact SUV bersama Honda CR-V, Nissan X-Trail dan Mazda CX-5. Sementara Mazda CX-3 ada di segmen sub-compact SUV dimana ada rivalnya seperti Hyundai Kona, Toyota C-HR, dan Honda HR-V.

Masih dari data JATO pula disebutkan jika Tucson merupakan kendaraan SUV terlaris dari  Hyundai pada beberapa tahun terakhir, termasuk menjadi SUV terlaris nomor 8 di dunia pada tahun 2018 lalu.

Berdasarkan data Initial Quality Study (IQS) dari J.D. Power pada tahun 2018 dan 2019 di Amerika Serikat, Hyundai Tucson juga selalu masuk ke dalam daftar “Top 2” sebagai mobil di segmennya yang paling minim keluhan konsumen atau pengguna dalam 90 hari pertama kepemilikan.

Soal pandangan dari sang KOL tersebut sebenarnya sah-sah saja di era keterbukaan dan perubahan arus komunikasi digital yang cepat, tapi tentu tidak ada salahnya para audiens memiliki filter yang cukup seperti pesan dari mbah Rene Descartes di atas, “De Omnibus Dubitandum“.

Nah, buat memperkuat tambahan referensi Anda soal klasifikasi segmen SUV di Indonesia, berikut 3 (tiga) tips kelas secangkir kopi dari jbkderry.com:

1. Perbandingan Dimensi

Untuk mengetahui sebuah kendaraan dengan satu genre atau model desain (misalnya segmen SUV) berada di rentang atau klasifikasi segmen yang sama, adalah coba membandingkan dimensinya.

Tidak perlu repot, tinggal memasukkan kata kunci ukuran dimensi dari masing-masing kendaraan yang ingin diketahui.

Menurut jbkderry.com, hal nomor satu ini yang paling penting dan paling awal mesti diketahui, meski kalau kemudian dianggap belum cukup silakan berlanjut ke poin nomor 2 di bawah ini…

2. Perbandingan Spesifikasi Mesin

Sang KOL yang disebut di atas membandingkan Hyundai Tucson dengan Mazda CX-3 karena kapasitas mesin yang sama, yakni 2.000cc.

Tapi mungkin karena lupa atau kurang detail, sang KOL lupa jika Hyundai Indonesia kini punya Kona di segmen yang sama (dalam hal perbandingan dimensi) dengan Mazda CX-3 dan juga mengusung mesin 2.000cc, bahkan telah dilengkapi dengan salah satu teknologi terbaru bernama Atkinson yang membuatnya lebih baik dalam hal performa dan efisiensi BBM.

Soal spesifikasi mesin ini memang bisa jadi membingungkan konsumen. Coba saja apakah pihak Mitsubishi Indonesia kira-kira gak bakalan protes kalau Eclipse Cross 1.5L Turbo dibandingkan dengan Chevrolet Trax 1.4L Turbo, padahal gap harganya cukup jauh.

Chevrolet Trax 1.4L Turbo dibanderol dengan harga Rp 292,5 juta untuk tipe 1.4 LT AT dan Rp 318,5 juta untuk tipe Premier AT. Sedang Mitsubishi Eclipse Cross ditempeli stiker harga Rp 478 juta hingga Rp 483 juta (data resmi 27 Juli 2019, dan bisa berubah sewaktu-waktu).

Artinya dalam perspektif marketing dan strategi penjualan, soal perbandingan dimensi dan spesifikasi gak bisa cukup tajam membedakan posisi pasar dari kedua sub-compact SUV ini di Indonesia. Walaupun di Eropa sana, keduanya mendapat rating standar tertinggi yakni 5-Bintang untuk urusan proteksi dan fitur pendukung keselamatan berkendara yang maksimum.

3. Perbandingan Harga

Nah, kalau sudut pandangnya seperti soal yang terakhir disebut di atas, maka perbandingan harga adalah titik temu yang paling kompromis.

Artinya Mitsubishi Eclipse Cross 1.5L Turbo secara posisi pasar bukan menjadi rival Chevrolet Trax 1.4L Turbo, melainkan berhadapan dengan segmen sub-compact SUV klasifikasi mesin 1,8L – 2.0L yakni Honda HR-V 1.8L, Toyota C-HR 2.0L dan Mazda CX-3 2.0L.

Apakah selesai sampai di sini perdebatan ini? Menurut observasi kelas secangkir kopi jbkderry.com, jawabannya bisa malah semakin melebar. Sebutlah kecenderungan fakta di lapangan, “Kalau Anda punya duit Rp 400an juta, mau pilih mana hayo; Honda HR-V 1.8 atau Honda Civic Hatchback 1.5 Turbo?”

Nah lho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s