NGOBROLIN HENGKANGNYA CHEVROLET DARI INDONESIA (SUDUT PANDANG KELAS SECANGKIR KOPI)

jbkderry.com – Di hari perayaan Sumpah Pemuda, Senin 28 Oktober 2019, redaksi media kelas secangkir kopi jbkderry.com menerima email soal hengkangnya Chevrolet dari pasar otomotif Indonesia mulai akhir Maret 2020.

Kabar ini sebenarnya tidak terlalu mengagetkan buat jbkderry.com. Pasalnya di bulan November 2018 lalu, orang nomor satu General Motors yakni Mary Barra telah mengindikasikan juga akan menutup pabrik mereka yang ada di Korea Selatan.

Silakan simak artikel CERITA SEDIH DARI AMERIKA SERIKAT DAN KANADA (CATATAN SENDU SECANGKIR KOPI).

Seperti sebagian dari Anda mungkin tahu jika beberapa model kendaraan Chevrolet yang dipasarkan di Indonesia merupakan produksi dari pabrik GM di Korea Selatan, setelah Daewoo bangkrut beberapa waktu lalu dan kemudian diakuisisi oleh pihak GM pada tahun 2001.

Kerasnya ombak di industri otomotif Indonesia saat ini sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Salah satu indikator paling mudah adalah menyusutnya angka penjualan sang mobil terlaris Toyota Avanza sejak tahun 2014. Silakan simak artikel BENARKAH TOYOTA AVANZA KALAH DARI MITSUBISHI XPANDER?

Data juga menunjukkan jika orang Indonesia tidak lagi semata membeli merek. Sekadar menyegarkan memori Anda soal bagaimana dihentikannya penjualan Toyota NAV1, Toyota Etios Valco, dan Honda Freed.

Momen puncak penjualan Mitsubishi Xpander pun nampaknya juga sudah mulai terlewati jika mengacu pada data Gaikindo. Di bulan September 2019 lalu, penjualan Mitsubishi Xpander yang sebelumnya bisa tembus di angka 6.000an unit ke atas per bulan, jadi menyusut di angka 4.407. Tidak sampai 50% dari angka penjualan wholesales sang raja “abadi” Toyota Avanza yang menembus angka penjualan 9.476 unit di periode bulan yang sama.

Tekanan industri otomotif di dalam negeri juga sebenarnya berjalan pararel dengan jalannnya industri otomotif dunia sejak tahun 2018 lalu. Setidaknya ini yang jbkderry.com kutip dari analisis pakar dari JATO. Silakan simak artikel BAHAS PASAR MOBIL BARU DI DUNIA PADA SEMESTER 1 2019.

Sebenarnya pasar otomotif di Indonesia bukan berjalan tanpa harapan. Wuling adalah sampel yang paling pas dijadikan contoh. Simak saja data penjualan Wuling Confero di bulan September 2019 yang mampu melewati angka penjualan Nissan Livina dan Honda Mobilio.

Di bulan yang sama, Wuling Cortez masih lebih laris dibanding rajanya diesel Isuzu Panther. Bahkan di segmen medium MPV, Wuling Almaz hanya kalah laris dibanding Honda CR-V, sementara para rival lain seperti Mazda CX-5 dan Nissan X-Trail berhasil dilewatinya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Analisis secangkir kopi

Hal yang paling umum yang jbkderry.com tangkap fenomenanya adalah migrasinya orientasi keinginan dan pandangan publik secara umum pada kendaraan.

Argumentasi paling mudah adalah tergerusnya pandangan jika mobil adalah simbol prestise, apalagi di kalangan muda.

Anak-anak muda millenial yang memiliki dana lebih mulai mengalihkan simbol prestise dengan gayanya sendiri, misalnya munculnya fenomena “hypebeast” dimana pakaian yang mereka kenakan bisa jadi seharga mobil low MPV.

Belum lagi fenomena travelling, koleksi jam, membeli properti, dan kuliner mahal.

Di sisi lain, konsumen pun semakin bergerak mencari referensi otomotif sendiri, mengingat arah media alternatif baru seperti K.O.L, influencer, selegram, YouTuber, dan semacamnya tidak ada bedanya dengan arah umum media mainstream, yakni meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan alih-alih hubungan profesional mempromosikan produk klien.

Para penganut aliran media baru ini dengan kemampuan bantuan kecerdasan buatan (baca: artificial intelligence) pun bergerak “memalsukan” kuantiti seperti halnya kesalahan media mainstream di era cetak yang kerap memanipulasi jumlah tiras yang sebenarnya.

Dengan bantuan SEO dan akses referral, para pengusung media aliran baru ini yang umumnya orang-orang atau anak-anak orang kaya berhasil meraih pundi-pundi yang banyak. Berbicara soal religi, tapi sebenarnya disadari atau tidak mengeruk di antara celah kepolosan konsumen.

Sebagai contoh beberapa waktu lalu, jbkderry.com melihat ada salah satu K.O.L paling kondang mengatakan sebuah merek dan mobil paling enggak banget di Indonesia. Eh, di tahun 2019 ini, doi malah jadi salah satu inisiator mempromosikan merek dan model mobil tersebut.

Jangan tanya banderol harganya, kata seorang teman untuk muncul selingan satu kali saja baik dalam format foto dan video minimal Rp 50 juta. Bahkan kalau diajak kerja penuh, per proyek minimal di angka Rp 100 juta.

Ada beberapa kejanggalan dari aksinya. Pertama, pernahkah dia berpikir jika aksinya itu bisa mempengaruhi publik untuk memutuskan membeli mobil tersebut?! Padahal dia sendiri yang bilang mobil itu jelek.

Kedua, pernahkah dia berpikir bagaimana audiensnya yang terpengaruh dan kemudian membeli mobil tersebut, akan kecewa akan kualitas mobil yang dipromosikan oleh idolanya?!

Ketiga, yang paling telah mau tidak sang K.O.L membeli mobil tersebut dengan uang sendiri dan menggunakannya sebagai kendaraan operasional sehari-hari sebagaimana target market konsumen mobil tersebut yang masuk kategori first entry buyers alias pembeli mobil pemula.

Di era digital ini, baik media mainstream dan media alternatif populer tersebut melupakan salah satu pondasi penting keberadaan mereka, yaitu mengedukasi.

Kalau pun kata “edukasi” terlalu jauh, setidaknya berpikirlah lagi soal tanggung jawab moral dari setiap aksi Anda yang (semakin) populer.

Beberapa kawan dan eks. klien sudah beberapa kali bertanya sekaligus menyarankan pada jbkderry.com, untuk memaksimalkan SEO dan kenapa memposisikan diri sebagai media kelas secangkir kopi yang cenderung kurang marketable?!

Setelah menimbang banyak hal; bukan mental artis, tidak kuat menghadapi hate speech, tidak berani menjadi K.O.L, serta yang berinteraksi dengan beberapa teman yang baik sukses mengelola media, ternyata perangkat digital jauh lebih berbahaya tingkat manipulatifnya.

jbkderry.com menyaksikan dengan kepala sendiri, seorang kawan yang bisa menaikkan jumlah penonton sebuah video YouTube cukup signifikan dalam waktu cukup singkat. “Gw bisa buat jauh lebih optimal kalau sudah dibayar. Orang di parlemen ada tiga anggota terpilih yang gw bantu up kok.”

Wah, berat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s