NAIK SEPEDA SABTU PAGI YANG BERBEDA DI DESA HAMBALANG

jbkderry.com – Sabtu pagi 2 November 2019 menjadi momen naik sepeda yang berbeda di kawasan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) di kawasan Citereup – Bogor.

Pagi itu cukup banyak mid-size sedan asal Jepang yang bergerak menuju ke arah Villa Hambalang, mulai Toyota Camry, Honda Accord, dan Nissan Teana. Lebih banyak jumlah Toyota Camry sih, dan generasi yang terbaru pula. “Mungkin lagi ada acara orang-orang penting, tapi kemana yah? Mestinya kalau rumah Prabowo kan yang Hambalang arah Bojong Koneng,” kata Om Kis.

Sejenak saking cukup seringnya dilalui dengan cepat oleh Camry, Derry Journey tiba-tiba memperhatikan desain lampu belakang dan garis desain bagasi belakangnya mirip dengan Honda Accord ataupun sedan BMW 5-Series (era Chris Bangle), dimana garis lampu belakang biasanya tajam dan garis desain bagasi belakang yang montok.

Persepsi soal mid-size Jepang pagi itu tidak berlangsung lama, pasalnya tantangan sebenarnya adalah bagaimana bisa tetap menggenjot pedal si Little Wolverine (sepeda seken punya Derry Journey) untuk bisa tiba di pos 1 Desa Hambalang.

Ya, kami banyak menyebut warung di tikungan ketiga selepas gerbang Desa Hambalang sebagai pos 1, tempat nongkrong paling enak pemandangan dan tempatnya yang jaraknya sekitar 3,5 km nanjak dari jembatan kawasan BNPT Sentul.

Selain sudah beberapa bulan jeda gowes di tanjakan, tantangan lain di pagi itu adalah panas yang lebih terik dan menyengat di musim kemarau saat ini di kawasan Kabupaten Bogor.

Empat kawan Derry Journey menggunakan sepeda lipat yang sudah di-custom dan lebih fit ketimbang si Little Wolverine. Otomatis konsistensi menggenjot pedal adalah satu-satunya kunci terbaik untuk menyeterai laju sepeda mereka. Dengan kecepatan yang lebih lambat karena perbedaan spesifikasi, selain konsistensi yang pelu dijaga adalah menjaga ritme.

Kiat ini pula yang bisa membuat si Little Wolverine bisa melalui sepeda lipat custom punya Om Kis dan Ndan (seorang kawan Brimob Kelapa Dua). Sementara kalau om Naryo, meski spesifikasi Darson lebih tinggi, tapi kiatnya sama seperti Derry Journey yang lebih memprioritaskan menjaga ritme yang konsisten, ketimbang mengedepankan faktor tenaga manusia.

Hanya Om Supri yang atlet tarung derajat nasional 12 tahun di masa mudanya yang seperti biasa memperlakukan jalur tanjakan itu seperti mainan komedi putar tanpa lelah.  Beberapa kali ia kembali turun dari tanjakan hanya untuk mengecek kondisi fisik teman-temannya di belakang di jalan tanjakan menuju Desa Hambalang. Dia memang yang terkuat di antara kami selama ini.

Naik sepeda ke alam hijau seperti ke Desa Hambalang, buat Derry Journey, selalu menyenangkan, membahagiakan, dan tidak jarang ketemu kejutan yang memberi semangat hidup lebih baik. Salah satunya ketika ketemu seorang pesepeda berusia 59 tahun di sebuah warung kaki lima selepas pos 1.

Bapak itu bercerita jika dia hobi banget sepedaan, sampai ke Bandung, Sukabumi, Cianjur, dan Banten, dengan jarak tempuh hingga di atas 100 – 150 km per sekali perjalanan (pakai nginap sih kalau sejauh itu katanya). Kata Om Kis yang lebih ngerti soal spek sepeda, harga sepeda bapak itu dengan biaya custom-nya tembus di atas angka Rp 10 juta.

Sebuah harga yang sudah mencengangkan Derry Journey, meski di sosial media kemarin sempat lihat keterangan seorang “sultan” soal sepeda lipat dengan harga di atas Rp 50 juta dan bahkan bisa tembus di atas angka Rp 100 juta.

Tapi yang menyita perhatian Derry Journey adalah bukan soal sepeda dan harganya, tapi pada usia bapak itu dan semangatnya. Setelah beberapa kali naik sepeda ke alam perbukitan dan pegunungan Bogor, Derry Journey sudah beberapa kali ketemu pesepeda yang bahkan usianya di atas 60 tahun, ada yang ketemu beberapa kali usianya di angka 65 dan 66 tahun, dan hebatnya mereka menempuh rute bersepeda yang tergolong ekstrim level kemiringan dan panjang tanjakannya.

“Sebenarnya karena faktor kebiasaan,” kata Ndan.

“Bukan itu juga sih, tapi ketemu mereka membuktikan jika di usia tua pun kita masih bisa tetap kuat dan semangat menjalani hidup sebagai seorang petarung. Selama ini kan banyak orang yang mungkin bilang kalau tua pasti sepuh, tapi faktanya kita bisa ketemu dengan orang-orang tua dengan kekuatan fisik dan semangat yang tetap baja di kategori umur yang biasanya disebut senja dan sepuh,” kata Derry Journey.

Pelajaran yang bisa dipetik dan ingin Derry Journey share melalui artikel ini adalah, “Ada banyak mungkin teori dan pandangan yang (katanya) pakar dan ilmiah di luar sana, tapi pada faktanya hal tersebut bisa jadi tidak mutlak dan absolut. Hal terpenting sebenarnya adalah jangan telan mentah-mentah semua pandangan di luar sana, dan fokuslah pada sesuatu hal yang bisa membuat kita tetap senang menjalani hidup, dengan segala skala rezeki, nikmat, takdir, ataupun cobaan dariNya.”

Tetap semangat jalani hidup dan  tetap berolahraga, gan. 

Oh iya, sebagai penutup, kalau bisa berolahragalah dengan bersepeda di jalur tanjakan dan kawasan alam di tempat kalian masing-masing. Kenapa? Naik sepeda di jalur seperti ini, bisa membuatmu lebih bersyukur menjadi orang Indonesia, sekaligus melatihmu untuk menjadi petarung kehidupan yang lebih kuat dan tidak cengeng dalam kondisi apapun.

Coba deh…

3 Replies to “NAIK SEPEDA SABTU PAGI YANG BERBEDA DI DESA HAMBALANG”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s