NGOBROLIN PELUANG RENAULT TRIBER YANG HARGANYA SUDAH DIUMUMKAN

jbkderry.com – Senin sore 18 November 2019, jbkderry.com sempat lihat Insta Story di IG Renault Indonesia, @id_renault, soal pengumuman resmi harga dan jumlah varian dari Renault Triber yang disampaikan langsung Davy J. Tuilan selaku COO PT Maxindo Renault Indonesia.

Hal yang paling menarik tentu adalah posisi harganya, yaitu:

  • RXE M/T : Rp 133 juta
  • RXL M/T : Rp 149 juta
  • RXT M/T : Rp 157 juta
  • RXZ M/T : Rp 164 juta
  • RXT AMT : Rp 164 juta
  • RXZ AMT : Rp 169,9 juta

Harga tersebut dalam kondisi on the road Jakarta. Hanya saja distribusi untuk tipe AMT kabarnya baru dimulai pada April 2020, sementara tipe transmisi manualnya sudah dimulai pada Desember 2019.

Sebagaimana telah banyak diulas oleh media-media mainstream, Renault Triber merupakan kendaraan keluarga yang diimpor (kendaraan CBU) dari India, dan memiliki layout kabin tiga baris kursi, dengan komposisi duduk menurut asumsi jbkderry.com yaitu 5+2.

Yah, karena panjangnya hanya 3.990 mm, besar kemungkinan kursi baris ketiga adalah untuk penumpang anak-anak atau penumpang dewasa dengan tinggi maksimal 150 cm, lebih daripada itu ruang lutut kaki bakalan gak muat.

Sepanjang Datsun Go+ Panca? Hmm, bisa jadi besar kemungkinan iya, soalnya Renault kan merupakan aliansi Nissan.

Tapi urusan desain, jujur jbkderry.com jauh lebih suka melihat penampilan Renault Triber ketimbang Datsun Go+ Panca. Atau dengan kata lain, secara desain Renault Triber punya pesona yang semestinya lebih memikat ketimbang Datsun Go+ Panca.

Guna memikat minat beli potensial konsumen, kabarnya PT Maxindo Renault Indonesia juga memberikan iming-iming gratis biaya servis selama 1 (satu) tahun pertama atau 20.000 (mana yang tercapai lebih dahulu).

Dalam keterangan yang jbkderry.com kutip dari informasi yang disampaikan langsung oleh Davy J. Tuilan di kanal YouTube Renault Indonesia, sejak diperkenalkan di GIIAS 2019 pada bulan Juli lalu, Renault Triber sudah dipesan sebanyak 1.453 unit dimana 78% di antaranya adalah tipe termahal RXZ AMT.

Pasar yang dibidik Renault Triber lebih ke segmen low-MPV yang masuk dalam skema LCGC, apalagi jika bukan bertarung dengan Toyota Calya dan Daihatsu Sigra yang masing-masing mampu terjual di kisaran 3.000an hingga 6.000an unit per bulan.

Meski tidak menegaskan secara gamblang berapa target penjualannya, namun Davy J. Tuilan di momen awal pihaknya berharap bisa meraih pangsa pasar 2 – 2,5 % di segmen low-MPV (baik kategori LCGC maupun non-LCGC).

Dari sudut pandang jbkderry.com, rival utama Renault Triber itu sendiri bukan dari dua model kendaraan asal brand Jepang di atas, melainkan lebih enak memperbandingkannya dengan Wuling Confero yang memiliki rentang harga bersinggungan seperti bisa dilihat di situs resmi Wuling Indonesia.

Sangat besar kemungkinan asumsi jbkderry.com, potensial konsumen Renault Triber akan memperbandingkannya dengan Wuling Confero ketimbang ke potensial konsumen Calya dan Sigra yang secara merek sudah terlalu kuat untuk diganggu di benak konsumen Indonesia secara umum.

Lantas apakah potensi pasarnya kecil? Tidak begitu juga melihatnya, karena data penjualan Wuling Confero di bulan September 2019 mampu melewati angka penjualan Nissan Livina dan Honda Mobilio.

Artinya secara peluang pasar, Renault Triber bisa jadi memiliki kans menjadi kuda hitam berikutnya di pasar entry level (baca: pembeli pemula mobil baru) di Indonesia.

Mesin 1.000cc bisa dilihat dari dua sisi setidaknya. Kalau diperbandingkan secara kapasitas mesin, tentu secara perspektif marketing umum kalah pesona dengan mesin 1.200cc punya Calya dan Sigra, apalagi dengan Confero yang punya mesin 1.500cc.

Tapi di sisi lain, dari skema pajak dan asumsi konsumsi BBM di atas kertas mestinya lebih rendah, dan ini bisa jadi peluang untuk memenangkan hati potensial konsumen, tinggal nanti bagaimana kekuatan tenaga salesnya di lapangan menjelaskan, plus tidak kalah pentingnya pembuktian fakta dan reliabilitasnya setelah dioperasionalkan oleh konsumennya.

Disamping dukungan layanan purna jual, mulai harga dan ketersediaan suku cadang, biaya jasa perawatan berkala, kualitas layanan purna jual, tidak kalah penting memang soal reliabilitasnya di lapangan nanti, apakah secara umum bisa memuaskan penggunanya.

Kalau berhasil bisa punya kans direkomendasikan, apalagi di era digital dimana bukan rahasia lagi jika budaya kasak-kusuk di sosial media di Indonesia umumnya lebih ramai ketimbang di dunia nyata.

Tantangan lain adalah soal transmisi AMT (Automated-Manual Transmission) yang kabarnya kurang cocok dengan selera dan kebutuhan berkendara orang Indonesia, karena karakter kinerjanya yang menghasilkan efek “ndut-ndutan”.

Awrait, itu saja ulasan kelas secangkir kopi untuk kali ini, Senin malam 18 November 2019, terima kasih telah menyempatkan waktu mampir dan semoga ada manfaatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s