CERITA PAGI PELARI SANTAI DENGAN MIMPI-MIMPI KECIL

Narasi kelas secangkir kopi ini terbangun saat lari pagi dengan ritme santai, durasi di atas 1 jam, ditemani dengan imaji mimpi-mimpi kecil di Sabtu pagi 23 November 2019. 

jbkderry.com – Kehidupan di bumi manusia umumnya hanya mencatat dan menuliskan narasi-narasi besar, namun minim ruang untuk narasi-narasi semenjana, dan itulah inti dari artikel kelas secangkir kopi di Sabtu pagi 23 November 2019 ini.

Seorang kawan kuliah S-1 yang paling tercerahkan, pemilik media keren http://www.timur-angin.com/, menulis tentang kebijakan sang presiden yang juga hanya mengakomodasi narasi besar dalam memilih para staf khususnya dari kalangan millenials. Artikel di media super keren itu berjudul “Para Stafsus Millenial yang Borjuis”.

Memprotes kebijakan sang presiden rasanya pun hanya membuang waktu, mendingan kembali melangkah melanjutkan hidup, dengan langkah-langkah yang tidak perlu megah layaknya narasi-narasi besar. Cukup tetap melangkah dengan hati yang senang, meski yang menikmati hanyalah diri sendiri tidak mengapa.

“Haruskah perjuangan hidup berakhir, ketika mimpi besar tidak tergapai?!” kata mendiang komedian Taufik Savalas pada Derry Journey di kisaran tahun 2002 di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Kata-kata itu disampaikan sang mendiang komedian besar itu saat mengenang kegagalan mimpi besarnya untuk menjadi tentara, meski demikian ia tetap melanjutkan perjalanan hidup dengan riang gembira dengan segala suka dukanya, lalu di waktu ke depan jalan hidup mengantarkannya pada dunia komedian yang kemudian hari mengharumkan namanya.

Mimpi besar, sebuah obsesi banyak orang yang disadari atau tidak membutuhkan energi besar pula untuk membumikannya, dan perlu mental yang kuat juga saat memperjuangkan ataupun menghadapinya saat gagal tergapai.

Apakah mimpi-mimpi besar adalah satu-satunya poros kebahagiaan dalam menjalani hidup? Apakah mimpi-mimpi kecil tidak menyemaikan benih kebahagiaan dan kesenangan? Apakah kebahagiaan hanya identik dengan narasi-narasi besar yang sangat hegemoni, borjuis, dan identik dengan bentangan karpet merah?

Lantas ingatan kelas secangkir kopi Derry Journey tergiang pada kisah hidup pak Darmo, penjual bakso rudal yang memulai perjalanan dengan mendorong gerobak. Beberapa waktu kemudian, kesuksesan menyapa hidupnya.

Pak Darmo berhenti mendorong gerobak bakso, lalu mulai menyewa kios kecil dan pelanggannya semakin ramai. Kemudian waktu, dia memperluas kiosnya dan kali itu sudah dibelinya itu bangunan pinggir jalan. Jualannya pun tidak hanya mie bakso saja, tapi juga ada mie ayam dan es campur.

Bertahun-tahun kesuksesan di warung bakso rudal, mie ayam, dan es campur pak Darmo dari Lamongan berjalan. Saking ramainya, istri dan anak-anaknya pun membantunya berjualan, selain beberapa pegawai, namun jalan hidup kesuksesan entah bagaimana seakan berpaling darinya dalam waktu yang cukup seketika.

Dua atau tiga tahun terakhir, warung pak Darmo terus semakin sepi pengunjung. Padahal rasanya yah begitu-begitu saja, tidak ada yang berubah, atau mungkin para pelanggannya bosan. Kini, pada saat artikel ini dibuat Pak Darmo dan istrinya sudah kembali ke kampungnya.

Warungnya tetap ada, entah dijual atau bagaimana, tapi yang jaga orang lain, tapi yang laris pun bukan bakso rudal, mie ayam, ataupun es campurnya. Melainkan ciloknya, dan Derry Journey adalah salah satu pelanggan setianya.

Di ruang yang lain gak dari situ, ada yang namanya bu Yonna, bini tercintanya Derry Journey. Dulu, dulu banget, waktu masih muda, bu Yonna bercita-cita jadi pegawai negeri dari “jatah” bapaknya, namun kabarnya bapaknya enggan mengurusnya. Lalu bu Yonna sempat bercita-cita jadi Bidan, sayang biaya pendidikannya mahal dan mamanya mengaku gak sanggup.

Kini, bu Yonna menikah dengan seniman edan. Hobinya selain nonton drama Korea, adalah semakin intens membuat kue dan nasi boks. Berkat antusiasmenya yang semakin tinggi, bu Yonna semakin sering menerima pesanan kue dan nasi boks.

Ya, dari pak Darmo dan bu Yonna, mungkin kita bisa belajar jika hidup tidak harus melulu dengan mimpi dan narasi besar untuk menggapai rasa bahagia. Berjalan dengan mimpi-mimpi kecil sepanjang roda hidup terus bergerak rasanya bukan sebuah kekeliruan langkah. Teruslah bergerak, meski dengan langkah-langkah sederhana tanpa sorot kamera atau publikasi yang sangat berpihak pada hal-hal yang borjuis.

Toh, meski sederhana, kita yang hidup rata-rata dapat lebih bersyukur ketimbang Xanthippe yang suka protes karena suaminya kebanyakan berfilosofi besar ketimbang mencari mencari uang untuk menghidupi ketiga anaknya.

Kita juga mungkin bisa lebih bersyukur ketimbang kehidupan Karl yang seringkali mendapat donasi dari Engels untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, demi ilusi mimpi besar perjuangan kesetaraan kelas.

Ya, kita tidak harus menjadi staf khusus borjuis sang presiden, tidak harus menjadi Socrates, tidak harus menjadi Karl, kita hanya hanya perlu menapaki titian-titian langkah sederhana yang mungkin tidak mencengangkan siapapun juga.

Hanya perlu sebuah keyakinan, jika kita tetap berusaha melangkah dan memastikan dunia kita tetap berjalan, meski tanpa tepuk tangan dan narasi-narasi besar yang melupakan orang-orang semenjana.

Para semenjana sedunia, bersenang-senanglah dalam menjalani hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s