NGOBROLIN TEKNOLOGI MOBIL LISTRIK (ARTIKEL SECANGKIR KOPI)

jbkderry.com – Apakah Anda termasuk orang yang tengah mempertimbangkan membeli mobil listrik dalam waktu beberapa saat ke depan?

Menuju ke situ, apakah Anda sudah mengumpulkan referensi yang cukup untuk keputusan membeli mobil listrik, termasuk di antaranya bagaimana sistem pengisian dayanya?

Ya, mungkin ini akan jadi pertanyaan umum di benak para potensial konsumen mobil listrik saat ini, dan semoga artikel kelas secangkir kopi kali ini ada manfaatnya.

Dari beberapa referensi yang jbkderry.com, untuk mobil listrik yang berteknologi PHEV (Plug-in Hybrid Vehicle) BEV (Battery Electric Vehicle), pengisian daya batereinya dapat dilakukan di rumah, maksudnya di garasi rumah.

jbkderry.com sempat lihat Rudy Salim, bos besar dari Prestige Motors, di sebuah vlog mengatakan setiap pembelian Tesla Model 3 di tempatnya sudah disertai dengan fasilitas pengisian daya.

Dari penelusuran lebih lanjut, meski bisa diisi daya batereinya di rumah, tapi pihak Mitsubishi Indonesia sempat mengutarakan untuk pengisian daya baterei Mitsubishi Outlander PHEV itu minimal kapasitas daya listrik di sebuah rumah adalah 3.500 watt.

Tentu itu bukan kapasitas daya yang ada pada rumah-rumah secara umum di Indonesia, yang notabene masyarakat kelas menengah daya rumahnya paling banyak di kisaran 900 watt – 2.200 watt.

Artinya secara potensi, target seleksi konsumennya memang terbatas yang rumah-rumah orang kaya atau di atas ekonomi rata-rata. Argumentasi penguat mengenai premis ini juga bisa dilihat dari harga mobil berteknologi PHEV dan BEV yang di Indonesia saat ini ada di atas Rp 1 miliar.

Mitsubishi Outlender PHEV saat artikel ini dibuat harganya di kisaran Rp 1,2 miliar, dan Tesla Model 3 yang dipasarkan Prestige Motors di kisaran Rp 1,5 miliar itu pun masih dalam kondisi off the road.

Kembali ke soal mobil listrik.

Sebagai gambaran, pengisian daya dengan sirkuit voltase pada mobil listrik kabarnya dibutuhkan durasi waktu 2 hingga 8 jam. Dan biaya pengisian dayanya ini dari sebuah keterangan Rudy Salim di jagat maya bisa mencapai 1/4 dari mobil sekelas yang masih menggunakan bahan bakar fosil.

Dari sebuah penelusuran lebih lanjut di jagat maya, kisaran penghematan menggunakan mobil listrik dari sebuah riset bisa mencapai US$800 per tahun, atau bisa hemat lebih dari Rp 11 juta per tahun.

Dan jika data itu dihubungkan dengan keberadaan Mitsubishi Outlander PHEV di Indonesia, pihak MMKSI menyebutkan jika baterei pada mobilnya tersebut bisa tahan dipakai hingga 10 tahun.

Atau jika dihubung-hubungkan, maka jika bisa hemat Rp 11 juta per tahun, dalam waktu sepuluh tahun bisa tembus di angka Rp 110 juta, dan itu tentu lebih dari cukup dan masih ada kembalian ketika membeli baterei baru. Kira-kita begitulah perhitungannya di atas kertas.

Nah, cara perhitungan konsumsi bahan bakarnya pun beda, jika pada mobil yang menggunakan bahan bakar fosil kita biasa mengenal istilah konsumsi “liter per 100 km”, nah, di era mobil listrik namanya jadi “kilowatt hours atau kWh per 100 km”.

Di Eropa pada artikel ini dibuat, berdasarkan sebuah riset pada tahun 2019 ini, biaya listrik per 100 km pada mobil listrik itu di bawah € 3 atau kurang dari Rp 46.500 per 100 km, bahkan untuk beberapa mobil listrik jenis tertentu biayanya di kisaran € 2 atau sekitar Rp 31 ribu.

Dari penelusuran lebih lanjut di jagat maya, umumnya mobil listrik di dunia saat ini dapat berjalan 80 hingga 100 km hanya kebutuhan daya 10 kWh. Efisiensi konsumsi daya pada mobil listrik dimungkinkan terjadi di antaranya karena faktor daya yang hilang itu jauh lebih sedikit ketimbang mobil dengan sistem bahan bakar fosil.

Jika pada mobil berbahan bakar fosil baik bensin ataupun diesel, maksimum daya yang dijadikan energi penggerak hanya di kisaran 35%, sedang pada mobil listrik bisa mencapai 90% bahkan lebih.

Nah, kekhawatiran terbesar adalah bagaimana jika daya listriknya habis, khususnya pada mobil listrik yang daya sepenuhnya mengandalkan baterei? Sama dengan mobil berbahan fosil, ya, resikonya mobil akan berhenti melaju.

Tapi hal itu seyogyanya sangat kecil kemungkinannya terjadi, karena sebagai mana pada mobil konvensional berbahan bakar fosil, pengemudi atau pemilik kendaraan tentu nyaris selalu memperhatikan kondisi bahan bakar yang ada pada kendaraannya sebelum berkendara.

Lagipula daya jelajah mobil listrik saat ini sudah ada yang tembus hingga 400 km, atau bisa jadi sudah lebih.

Hal lain yang mungkin jadi nilai kekhawatiran adalan nilai penyusutan barang atau yang lebih dikenal dengan istilah nilai jual kembali. Berdasarkan sebuah riset yang dirilis pada tangga 17 Juni 2019, nilai depresiasi kendaraan listrik yaitu 56,6%, sementara penyusutan untuk kendaraan berbahan bakar bensin ada di angka 38,2%.

Itu saja informasi untuk kesempatan kali ini, semoga ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Jika ingin tahu lebih banyak soal informasi mobil listrik, Anda juga bisa mendapatkannya cukup banyak di media kelas secangkir kopi satu ini. Cukup dengan memasukkan kata kunci “listrik” di menu pencarian atau search menu.

Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s