BELAJAR BERUBAH DAN BERKEMBANG A LA KASTA SEMENJANA

jbkderry.com – Artikel akhir pekan kali ini Minggu malam 12 Desember 2019, lebih kepada sebuah premis a la secangkir kopi. Dilewatkan juga boleh, nanti di hari kerja sedianya akan diisi lagi dengan konten reguler tentang dunia otomotif.

Terlebih jika para penyimak artikel ini bukan dari kasta semenjana, sebaiknya memang segera menutup artikel kali ini.

Yang masuk kasta semenjana semoga ada manfaatnya.

Premis pertama adalah tidak semua orang dapat memiliki nasib baik dengan kemampuan melakukan perubahan-perubahan besar dalam hidupnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri bahkan untuk kebutuhan kehidupan orang banyak yang lebih baik.

Bagaimana jika memiliki nasib demikian? Kita bisa saja menyalahkan takdir, atau menyalahkan diri sendiri karena kurang bekerja keras ataupun berdoa sebaik-baiknya untuk membujuk Tuhan mengubah nasib kita, kita juga mungkin bisa menyalahkan orang tua dan lingkungan dekat yang kurang memberi dukungan maksimal untuk meraih cita.

Tapi yang pasti menyalahkan ataupun mengutuk tentu tidak akan berpengaruh apa-apa dalam mengubah keadaan jadi lebih baik. Lantas bagaimana?

Menjadi bagian dari kasta semenjana sebenarnya tetap punya kans untuk mengubah nasib, meski ekspektasinya bisa diturunkan dan berdamai dengan keadaan dan kemampuan diri.

Misalnya bagaimana? Untuk hal ini Derry Journey punya sedikit pengalaman yang semoga ada manfaatnya.

Misalnya untuk menjaga kesehatan agar tetap prima bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana, seperti lari pagi ataupun naik sepeda. Untuk lagi pagi, harga sepatunya juga gak perlu mahal. Di Sport Station biasanya ada Last Clearance Sale, coba deh cari merek-merek yang tidak terlalu populer seperti Diadora seperti yang Derry Journey pakai buat lari dan naik sepeda harganya “cuma” Rp 200 ribuan.

Demikian pula dengan naik sepeda, gak perlu beli Brompton kayak Direksi Garuda yang jadi kena kasus. Cukup beli sepeda seken. Menurut penggawa komunitas Gowes Kopi Ireng, om Kis yang bekerja sebagai ASN di Pemkot Depok, harga Polygon Heist 1.0 atau 2.0 seken kalau beruntung bisa dapat di bawah Rp 2 juta rupiah.

Nah, naik sepeda dan lari itu mengajarkan kita untuk membuat ritme gerak. Tidak perlu nafsu dan cepet-cepetan, apalagi terpengaruh dengan orang yang lari atau naik sepeda lebih cepat, karena kondisi ketahanan fisik setiap orang berbeda.

Tapi dari pengalaman lari pagi, apalagi naik sepeda, Derry Journey sudah sering banget ketemu orang-orang yang usianya di atas 50 tahun, bahkan acap kali juga ketemu di kawasan perbukitan Bogor yang usianya di atas 60 tahun. Bahkan ada yang sudah di atas 70 tahun masih kuat genjot pedal sepeda di jalur tanjakan.

Tipsnya adalah santuy dan berusaha menemukan ritme gerak lari atau genjot pedal sepeda yang sesuai dengan kondisi tubuh kita. Derry Journey sendiri mulai berlari dan naik sepeda di atas usia 40 tahun, dan alhamdulillah bisa.

Minggu pagi 8 Desember 2019 misalnya atas ajakan seorang kawan, Bro Naryo dari komunitas Gowes Kopi Ireng, rutenya ke titik Nol KM Bojong Koneng yang lokasinya sekitar 1 km dari kediaman pak Prabowo Subianto.

Buat pesepeda di kawasan Bogor, ini merupakan salah satu rute favorit. Tapi jangan tanya bagaimana beratnya buat sampai ke sana, baik lewat Sentul City maupun Bukit Pelangi.

Di hari itu, Derry Journey berusaha menaklukkan untuk kedua kalinya rute itu via Bukit Pelangi, tapi baru di tanjakan menuju kawasan outbound Gumati, rasanya sudah mulai ragu, “Hmm, bisa gak yah. Soalnya sudah sekitar 4 bulan lebih belum pernah lagi gowes sejauh ini, apalagi ini adalah hari kedelapan tanpa konsumsi nasi lagi?!”

Di sebuah warung lesehan dadakan depan gerbang Bukit Pelangi, Derry Journey bersama Bro Naryo berhenti. Sekitar 500 meter sebelum sampai situ rasanya sudah mulai mau habis.

“Ini masih setengah perjalanan, Bro. Nanti kalau selepas sini, gak usah pikirin satu sama lain. Rutenya bakal menyibukkan diri sendiri untuk ditaklukkan. Gowes saja terus, nanti kita ketemu di atas,” kata Derry Journey.

Bro Naryo di pagi itu lagi bagus kondisinya, pace-nya pun konstan. Sementara Derry Journey masih beberapa kali kebingunan mengatur posisi gigi yang tepat buat melibas jalur tanjakan.

Sekitar 1,7 km sebelum titik Nol KM Bojong Koneng yang berada di ketinggian 650 MDPL, Derry Journey benar-benar sudah habis. Mata sudah kunang-kunang, dan energi sepertinya benar-benar sudah terkuras melampaui batas.

Di sebuah warung di pinggir jalan, Derry Journey langsung berhenti memesan teh manis hangat, dan saat napas sudah mulai agak stabil, sebuah pesan WA dikirimkan ke Bro Naryo, “Pak Bro, gw kayaknya sudah habis dan menyerah nih, gak sanggup lagi lanjut ke atas.”

Selang sekitar 10 menit, Bro Naryo membalas pesan WA disertai sebuah dua buah foto. Satu foto baliho legendaris di titik Nol KM Bojong Koneng, dan satu lagi tumpukan kelapa muda, disertai sebuah pesan, “Tanggung, bro. Dikit lagi, ini sudah ditungguin kelapa muda di atas.”

Derry Journey pun tergelak, pesan ini sebuah penyemangat. Setelah terasa kondisi badan mulai dapat energi lagi, atribut pun kembali dipakai. Mengandalkan posisi gigi teringan dan ritme yang santuy, akhirnya tiba juga di titik Nol KM Bojong Koneng.

Ya, sebagai semenjana, kalaupun belum bisa bermanfaat bagi orang lain, setidaknya kita bisa menciptkan manfaat buat diri sendiri.

Jangan pernah menyerah, karena kans menang atau kalah (terlepas dari skala pertandingannya besar, sedang, atau kecil sekalipun) itu ada di internal diri kita masing-masing.

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s