MENGUJI KEKUATAN HATI DAN DENGKUL BERSEPEDA KE CURUG NANGKA BOGOR

jbkderry.com – Jika melihat di Google Maps, jarak dari basecamp komuniti gowes santuy Kopi Ireng di kawasan Cibinong ke Curug Nangka adalah 33 km.

Dan Minggu pagi 29 Desember 2019, tujuh anggota Kopi Ireng bergerak menuju ke sana bersama sepeda andalan masing-masing. Road captain om Kis dengan Haro customnya, om Afid dengan Minelli custom sprocket 9-speed dan jok semok pakai per serta pakai ban ukuran 700.

Ada om Har yang pakai Polygon Heist 2.0 dan ban 700, ada pak Puh dengan ban ukuran 700, sproket custom 8-speed, dan jok baru yang dibeli di Ronles. Lalu ada kumendan Mul dan om Naryo yang pakai MTB andalannya masing-masing, serta Derry Journey yang masih setia dengan Little Wolverine namun kali ini dengan asupan sprocket baru 8-speed.

Perjalanan menuju kota Bogor di pagi itu terhitung ramai dengan para pesepeda, dan hanya butuh kisaran satu jam perjalanan saja, magnificent-seven Kopi Ireng itu sudah tiba di kawasan Kebun Raya – Bogor.

Tantangan pun menanti selepas kawasan turunan di samping Bogor Trade Mall, dan Ndan Mul yang mulai keluarkan suara duluan, “Syet, ini nanjak terus neeh?”

“Iya, tapi ini sudah rute yang paling ringan,” kata road captain om Kis.

“Kalau lewat tanjakan Demit malah lebih parah, Ndan,” timpal Derry Journey.

Siklus alami pun mulai berjalan, beberapa kawan mulai keteteran. Ndan Mul duluan, sampai sempat berseloroh, “Ada yang punya aplikasi Grab gak yah?”

Pak Puh juga yang sangat santuy beberapa kali ketinggalan. Pak Har yang coba jaga ritme konsisten juga mulai kedodoran, sementara om Kis kalaupun terhenti beberapa kali mungkin karena lagi kurang fit. Soalnya juragan burung yang biasa jadi road captain Kopi Ireng yang punya pengalaman dan teknis bersepeda paling baik.

Pak Afid yang biasanya paling gapek di tanjakan sekitar enam kilometer sebelum lokasi sudah pakai posisi gigi teringan, tapi rival perjalanan kali ini adalah pak Naryo tandem sejati perjalanan beberapa waktu terakhir.

Bertiga bersama pak Afid dan om Naryo, Derry Journey bisa dibilang tidak putus menuju lokasi yang 95% jalannya terus menanjak hingga tiba di kawasan Curug Nangka. Kira-kira kalau gowes terus, bisa dicapai dalam waktu kisaran 2 jam.

Perubahan sprocket belakang di Little Wolverine di pagi itu berperan sangat besar buat menaklukkan tanjakan, ditambah beberapa referensi baru dari pengalaman bersepeda dua pekan lalu bersama para master di Jarwo Bike Adventure juga menambah kekuatan Derry Journey berada di depan terus di pagi itu.

“Gokils, sprocket baru geber terus,” kata om Naryo.

Sekadar berbagi wawasan buat para pesepeda pemula seperti Derry Journey saat ingin melibas tanjakan ada dua tips. Tips pertama, ujung bokong dudukin ujung sadel sambil gowes. Teknik ini membuat teknis genjotan jadi lebih ringan, namun konsekuensinya bokong jadi lebih mudah capek.

Tips kedua adalah badan tegak lurus dengan analogi seperti menggowes sepeda berban satu, posisi bokong jangan dudukin sadel secara penuh. Dudukin setengah ke depan saja, dan ternyata tips ini cukup manjur selama perjalanan kemarin. Dan ini juga untuk pertama kali, Derry Journey tidak pernah pakai posisi gear teringan baik depan dan belakang.

Posisi gear depan konsisten di posisi kedua, dan gear belakang main di 3 -4 sesekali ke-2 kalau mulai kedodoran tapi gak pernah ke-1.

Sesaat sebelum Dzuhur, bersama pak Afid dan om Naryo, Derry Journey duluan tiba di kawasan Curug Nangka. Ternyata ramai banget di dalam, mungkin karena musim liburan. Cuaca pun sangat mendukung, gak panas dan banyak kabut pula di atas gunung sana yang bisa terlihat dari bawah.

Buat masuk ke sana, setiap orang dikenai tiket Rp 15 ribu. Dan banyak banget monyet-monyet liar saat kami memasuki kawasan wisata yang berjibun dengan pepohonan Pinus yang tinggi-tinggi itu.

Kawasan Curug Nangka ini juga sekaligus mengirimkan pesan buat para kaum Semenjana, jika untuk mengejar kebahagiaan itu tidak harus merogoh kocek dalam-dalam. Cukup bayar tiket masuk, lalu beli jajajan di dalam juga sudah bisa bahagia.

Dengan budget Rp 50 ribu – Rp 75 ribu per orang, para pengunjung sudah bisa merasakan betapa syahdunya Tuhan menciptakan alam Indonesia yang tinggi. Sama satu lagi, kalau ke sana jangan buang sampah sembarangan yah.

Kuylah, tunggu apa lagi. Bersegeralah keluar rumah, alam Indonesia sudah menantimu untuk disapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s