MELIHAT SISI LAIN KORPORASI OTOMOTIF AMRIK DAN ITALIA DI FORD V FERRARI

jbkderry.com – Berkesempatan menonton film Ford V Ferrari, Rabu 8 Januari 2019, jbkderry.com langsung membayangkan banyak hal.

Pertama, teringat dengan buku “How to Read a Film” karya James Monaco yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1971. Dalam buku tersebut, ada kutipan yang kira-kira berbunyi, “Tidak film yang lahir dari imajinasi murni, pasti ada hal nyata yang turut melatarinya.”

Jika benar demikian, film Ford V Ferrari ini mestinya menjadi sebuah film penting bagi penggemar dunia otomotif di seluruh dunia. Terlebih kabarnya film ini memang terinspirasi dari kisah nyara Carroll Shelby, salah satu desainer otomotif dan juga pembalap mobil terbaik yang pernah dimiliki Amerika.

Di luar hal tersebut di atas, film berdurasi 2 jam 32 menit ini rasanya akan membosankan buat kalangan non penggemar dunia otomotif, tapi sebaliknya buat penyukanya alias para petrolhead.

Film yang disutradarai James Mangold ini mengajak penontonnya melihat lebih dalam sisi kelas korporasi otomotif Amrik (dalam hal ini Ford) dan juga korporasi otomotif asal Italia (dalam hal ini Ferrari).

Sebelum sampai pengulasan lebih jauh, ada sebagian pandangan yang pernah jbkderry.com dengar jika dalam bisnis itu jangan baper. Mirip-miriplah dengan dunia politik, jika yang utama dalah kepentingan bisnis itu sendiri dan mengabaikan atau setidaknya menempatkan faktur humanisme atau masalah kemanusiaan dalam poin yang bukan utama alias sampingan, alias instrumen pendukung, dan siap dikorbankan atau disingkirkan sewaktu-waktu.

Masih tergiang kejadian sebelum Ford hengkang dari Indonesia di tahun 2016, nasib pabrikan mobil asal Amerika di Indonesia sepertinya cerah-cerah saja. Ditandai oleh diresmikannya sejumlah dealer mewah di sejumlah wilayah (termasuk yang gede banget Ford Nusantara Bekasi), serta peluncuran mobil-mobil baru seperti Fiesta EcoBoost dan EcoSport.

Tapi awan cerah itu seketika berubah menjadi badai kelam, karena Ford memutuskan hengkang dari Indonesia, padahal sejumlah dealer baru (termasuk Ford Nusantara Depok) nampak baru saja memulai perjalanan. Kisah mengenai cerita kelam dan kisruh soal itu masih bisa dicari dengan memasukkan kata kunci “Ford Hengkang Dari Indonesia” di Google.

Makna “kejamnya” Ford dalam menciptakan kebijakan itu pula yang mudah ditangkap penonton film Ford V Ferrari yang dibintangi secara keren oleh Matt Damon (Carroll Shelby) dan Christian Bale (Ken Miles).

Syahdan, Henry Ford II (diperankan Tracy Letts) gusar dengan kondisi penjualan Ford yang menurun, dan menantang pada anak buahnya untuk menemukan sebuah strategi baru guna merangsang pasar.

Singkat cerita, terbentuklah ide untuk membentuk tim balap guna menciptakan image ketangguhan, kecepatan, dan kemewahan a la Ferrari. Maka diutuslah tim untuk bertemu dengan Enzo Ferrari, yang ternyata tanpa diketahui tengah bernegosiasi penjualan perusahaan kepada pihak Fiat.

Kedatangan tim utusan Ford ini justru dimanfaatkan oleh seorang fotografer utusan Ferrari untuk memanas-manasi pihak Fiat. Mengetahui kedatangan utusan Ford, pihak Fiat pun dengan cepat dan sigap melakukan proses transaksi pembelian Ferrari.

Sebelum pulang, Enzo yang juga pernah menghina Ferrucio Lamborghini, menyatakan sebuah pesan hinaan untuk Henry Ford II melalui utusannya. Pesan ini membuat Henry Ford II murka dan bersumpah untuk membentuk tim balap untuk mengalahkan dominasi Ferrari di balap ketahanan 24 jam legendaris Le Mans.

Ia pun mengundang Carroll Shelby yang pernah mengalahkan performa Ferrari di ajang 24 Hours of Le Mans. Sayangnya, ajakan ini terkesan setengah hati dan meremehkan. Henry Ford II dan wakilnya Leo Beebe di film ini tidak sepenuhnya memberikan kepercayaan pada Carroll Shelby dan Ken Miles untuk pengembangan Ford GT40.

Berbagai cara yang kurang fair, tapi menjadi ilustrasi potret nyata dunia bisnis otomotif, dilakukan oleh Henry Ford II dan Leo Beebe. Padahal notabene, kinerja Carroll dan Ken justru untuk memenuhi keinginan mereka, yaitu menciptakan sebuah mobil balap yang bisa mempermalukan mobil balap Ferrari dan juga Enzo Ferrari di ajang 24 Hours of Le Mans.

Kisah kongkalikong a la industri motorsport juga disampaikan di film ini. Saat Carroll ingin mengganti piranti rem pada mobil Ken, Enzo dikabarkan langsung menghubungi panitia untuk mendiskualifikasi rivalnya dari Ford tersebut. Beruntung, Carroll bisa melakukan argumen jika permintaan panitia itu tidak ada dalam ketentuan.

Pada intinya, film ini yang jbkderry.com tangkap adalah seperti halnya dunia politik, dunia bisnis kelas kakap pun penuh dengan intrik dan manuver, termasuk khususnya dari kalangan internal.

Jadi kalau Anda bisa tertawa atas kemenangan atas musuh kuat yang berada di depan, tetaplah seyogyanya waspada, karena tikaman berikutnya justru bisa datang dari lawan yang paling berbahaya dan tidak terlihat, karena posisinya ada di belakang Anda.

Itu saja dulu, semoga ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s