REVIEW FILM 1917: MISI MULIA SEORANG KOPRAL MUDA HENTIKAN PERANG

jbkderry.com – Ada banyak alasan menonton film “1917” yang disutradarai Sam Mendes (sutradara film Road to Perdition, Skyfall, dan Spectre) dan berdurasi 1 jam 59 menit ini.

Dari segi penghargaan, film 1917  dengan budget produksi di kisaran US$90 juta (sekitar Rp 1,26 triliun) telah menerima penghargaan sebagai Best Motion Picture (mengalahkan film “Joker”) dan Best Director di ajang Golden Globe Awards 2020.

Di ajang Academy Awards 2020 yang sedianya digelar pada tanggal 9 Februari 2020 di Hollywood, film 1917 dinominasikan pada kategori Sinematografi, Penyutradaraan, Musik, Gambar Terbaik (Best Picture), Desain Produksi (Production Design), Editing Suara (Sound Editing), Sound Mixing, Efek Visual, dan Penulisan (Writing).

Dari teknik pembuatan film, 1917 memang sebaiknya tidak dilewatkan. Salah satu alasan utamanya adalah teknik pembuatannya yang seakan mengusung konsep sinematografi “One Shot” seperti penjelasan video ‘behind the screne’ di bawah ini:

Demi mengusung teknik pembuatan yang seakan mengusung teknik “One Shot” itu, Sam Mendes mengatakan tidak ada lokasi film yang sama pada tiap scene atau adegan.

Atau dengan kata lain, penonton seakan diajak pada alur film yang terus bergerak tanpa kehilangan substansi pesan yang ingin disampaikan, apalagi dukungan kualitas pencahayaan, teknik pengambilan gambar yang sangat apik dan nyaris sulit didapat pada film-film Hollywood saat ini, plus kualitas suara dan musik yang harmonis menambah kesan yang terasa alami.

Ya, penonton seakan diajak secara natural (dan seakan diajak merasakan pengalaman langsung) bagaimana perjuangan Kopral  Muda Will Schofield untuk menyampaikan surat dari Jenderal Erinmore pada pimpinan batalion terdepan Kolonel Mackenzie, agar menghentikan upaya penyerangan pada pasukan Jerman yang seakan terpukul mundur, padahal itulah adalah siasat atau jebakan maut yang sudah dipersiapkan untuk pasukan Inggris selama berbulan-bulan.

Jika Schofield gagal menjalankan misinya, maka kemungkinan sekitar 1.600 pasukan Inggris yang tergabung dalam resimen Devonshire yang dipimpin oleh Kolonel Mackenzie akan menjadi korban jebakan tersebut, dan tentu saja resikonya tewas serta mengalami kekalahan.

Ya, dibanding film Saving Private Ryan, Platoon, ataupun film-film perang produksi Hollywood lainnya, film 1917 terasa lebih manusiawi, atau tepatnya lebih merendah, karena penonton disuguhi jika jiwa patriotisme tidak harus dilihat dari sudut pangkat yang tinggi.

Sam Mendes berhasil mengajak penonton film 1917 untuk lebih horizontal dan moderat melihat sisi lain dari perang fisik dengan amunisi bedil, peluru, granat, ataupun pesawat tempur.

Ya, dari film 1917, penonton kembali diajak melihat jika Hollywood tidak sepongah dan sejemewa dulu untuk menciptakan tokoh-tokoh heroik. Kini, tokoh-tokoh heroik Hollywood tidak harus menjadi John Rambo atau John McClane.

Kali ini tokoh penyelamat kemanusiaan cukuplah seorang Kopral Muda bernama Will Schofield (diperankan oleh aktor asal Inggris, George MacKay – 28 tahun).

3 Replies to “REVIEW FILM 1917: MISI MULIA SEORANG KOPRAL MUDA HENTIKAN PERANG”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s