NAIK MOTOR JANGAN BENGONG DAN BERHARAP KEBERUNTUNGAN

jbkderry.com – Sudah cukup lama, media kelas secangkir kopi ini pengen ngangkat ulasan tentang pengendara motor seperti scoop bahasan dalam artikel kali ini.

Jadi berdasarkan pengamatan kelas secangkir kopi jbkderry.com, khususunya di kawasan kabupaten Bogor atau saat ke Lombok pada pekan lalu, masih banyak pengendara motor yang cenderung bengong dan mengandalkan keberuntungan saat berkendara.

Masih cukup sering (asumsi) jbkderry.com melihat pengendara motor yang lepas dari potensi kecelakaan semata-mata karena keberuntungan, tanpa coba menganalisa jika potensi kecelakaan yang baru saja dilewatkannya itu juga karena kelengahannya pada saat berkendara.

Indikasi sikap cuek itu bisa dilihat setelah lepas dari potensi insiden yang baru saja dilewatkan, langsung ngepot alias ngebut lagi sambil berharap bisa lolos atau luput lagi dari potensi kecelakaan berikutnya di depan.

Kalau di Lombok selama 3 hari 2 malam di awal Februari 2020, jbkderry.com melihat fenomena berbeda, dimana banyak pengendara motor yang berjalan konstan dengan indikator kecepatan yang terbilang rendah, di bawah 40 kpj.

Hal ini menurut menurut pengalaman jbkderry.com agak cukup riskan dan membahayakan, karena terkadang pengendara harus bisa menyesuaikan ritme dengan kondisi sekeliling.

Misal gini, pada saat berkendara dari arah belakang nampak mobil atau truk yang melaju kencang, lalu di depan motor kita ada penjual bakso dorong, sebaiknya kita sedikit menaikkan kecepatan motor mendahului penjual bakso itu dulu ketimbang tetap berjalan konstan punya resiko lebih membahayakan antara nabrak penjual bakso atau “dicium” sama kendaraan di belakang yang melaju kencang tadi.

Sederhananya, bermotor bukan soal melaju kencang atau pelan, tapi bagaimana bisa menciptakan rasa aman buat diri sendiri maupun orang lain. Ini tentu butuh pengalaman dan kepekaan.

Okelah daripada berpanjang lebar lagi, fenomena berkendara yang ceroboh ini membuat jbkderry.com coba membuka-buka arsip lama dan ketemu slide penjelasan dari om Setyo Suyarko dari Yamaha Riding Academy yang dipresentasikan pada akhir Oktober 2019 lalu. Semoga ada manfaatnya.

Jadi menurut om Setyo, data pertumbuhan sepeda motor di Indonesia seyogyanya diiringi dengan pengetahuan keselamatan berkendara. “Pasalnya data terbaru kami ada sekitar lebih dari 30 ribu korban kecelakaan lalu lintas sepeda motor per tahun.”

Lalu ia pun memberikan ilustrasi yang sangat baik yang disadur dari praktik Yamaha Riding Academy yang telah pernah dilakukan. “Pada pemotor yang fokus pada satu hal, responnya dalam mengantisipasi perubahan situasi lalu lintas cukup dalam 0,4 detik. Sementara pada pemotor yang fokusnya terpecah pada satu hal, responnya mencapai 0,80 detik.”

Respon yang lambat itu pun sangat berperan pada upaya menciptakan rasa aman berkendara. Pengendara motor yang melaju pada kecepatan 50 km/jam namun fokus pada maksimal satu hal, bisa mendapat jarak berhenti 5,5 meter. Sementara pada kecepatan yang sama pada pengendara yang fokusnya pecah lebih dari satu hal, maka baru dapat menghentikan laju motornya setelah jarak 11 meter.

Dari situ saja, sudah terbayang betapa beresikonya kalau berkendara sambil bengong atau tidak fokus.

Menurut om Setyo ada tiga hal penting yang bisa mempengaruhi tinggi resiko berkendara sepeda motor di jalan raya, yaitu faktor manusia, kendaraan, dan lingkungan.

Faktor manusia terdiri dari 3 hal umum, yaitu kurang disiplin dan etika berkendara, kondisi fisik dan emosi pengendara, serta keterampilan/skill berkendara.

Faktor kendaraan juga terdiri dari tiga hal yaitu; kurang mengenal karakter kendaraan, fungsi kelengkapan keamanan kendaraan, serta perawatan yang salah.

Sementara faktor lingkungan yaitu; kurang mengenal karakter / kondisi jalan (ramai, rusak, tikungan), cuaca yang buruk, dan pengguna jalan lainnya.

Untuk menghindari potensi penyebab kecelakaan tersebut, setiap pengendara motor pun dapat melakukan beberapa langkah positif.

Dimulai dari setiap pengendara perlu membangun kesadaran keselamatan berkendara menjadi karakter, misanya mulai menggunakan peralatan standar berkendara (helm, jaket, sarung, tangan, sepatu), mengecek kondisi motor (bahan bakar, oli, ban, rem), serta bisa menciptakan budaya dan perilaku berkendara yang baik dan patuh peraturan (tidak melawan arah dan menerabas lampu merah).

Hal penting lainnya yang perlu dipahami dan dilaksanakan oleh setiap pengendara motor adalah posisi berkendara, teknik pengereman, teknik keseimbangan, dan teknik berbelok.

“Usahakan selama berkendara, bisa menggunakan pakaian yang mudah terlihat, misalnya menggunakan warna merah atau kuning,” kata om Setyo.

Sebagai penutup artikel kali ini, berikut gambaran data yang jbkderry.com sadur dari slide Yamaha Riding Academy yang disampaikan om Setyo Suyarko pada kesempatan tersebut:

– Kecepatan 30 kpj; jarak reaksi 8m/detik, jarak pengereman 6 meter, jarak henti 14 meter.

– Kecepatan 40 kpj; jarak reaksi 11m/detik, jarak pengereman 11 meter, jarak henti 22 meter.

– Kecepatan 50 kpj; jarak reaksi 14m/detik, jarak pengereman 18 meter, jarak henti 32 meter.

– Kecepatan 60 kpj; jarak reaksi 17m/detik, jarak pengereman 27 meter, jarak henti 44 meter.

Itu saja dulu, semoga informasinya bermanfaat. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s