NGOBROLIN PREDIKSI PASAR KENDARAAN NIAGA TAHUN 2020 DAN POLEMIK KEBIJAKAN ODOL

jbkderry.com – Pada tahun 2019 lalu, pasar kendaraan niaga dikabarkan turun 19% (turun 22.098 unit) dari angka 116.421 unit pada tahun 2018 menjadi 94.323 unit pada tahun 2019.

Pasar light duty truck (LDT) yang volume pasarnya terbesar turun dari 77.946 unit (2018) menjadi 66.057 unit (2019), dengan nilai persentasi penurunan sebesar 15% atau setara dengan 11.889 unit.

Nilai persentasi penurunan lebih tajam terjadi pada segmen medium duty truck (MDT) yang turun 27% (turun 8.292 unit) dari angka 30.280 unit (2018) menjadi 21.988 unit (2019).

Ada beberapa faktor yang disebut mempengaruhi kondisi negatif pada pasar kendaraan niaga di Indonesia pada tahun 2019 lalu, di antaranya tahun politik dan realisasi kebijakan ODOL (over dimension over load).

Kebijakan ODOL ini sendiri berdasarkan penelusuran di jagat maya masih tarik ulur hingga di bulan Februari 2020 ini, dan membuat kebingungan di antara pelaku usaha yang mengoperasionalkan kendaraan niaga di jalan raya.

Hingga di pertengahan Januari 2020 lalu, Kementerien Perhubungan RI masih bersikukuh jika kelongggaraan soal kebijakan ODOL paling lama di tahun 2022, sementara Kementerian Perindustrian RI berharap bisa ditunda hingga tahun 2024.

Seorang pemilik usaha angkutan truk sejak tahun 2006 dengan unit operasional sekitar 350an unit truk, mayoritas truk ringan kategori 2, mengatakan pada jbkderry.com, “Kebijakan ODOL masih jauh untuk diterapkan di Indonesia, mengingat biaya logistik di Indonesia saat ini saja sudah lebih mahal dibanding Singapura. Bahkan saya pernah bertanya pada kenalan mengenaik biaya logistik di India saat ini cuma setara 500 rupiah / km, sementara di sini sudah tembus 6 ribu rupiah / km.”

“Apalagi kalau kebijakan ODOL jadi diterapkan sesuai ketentuan, maka truk 6-ban cuma dibatasi bisa mengangkut maksimal 4-ton. Silakan dipikirkankan lagi dampaknya dimana volume angkut jadi sedikit dan akhirnya ongkos angkut jadi lebih mahal, lalu harga barang naik dan itu tentu berimbas pada kehidupan masyarakat banyak. Mestinya ada cara yang lebih cerdas dengan memanfaatkan teknologi, misalnya kualitas aspal dikerasin, tidak semata-mata pada pembatasan volume angkut kendaraan,” imbasnya.

Perbedaan pendapat soal kebijakan ODOL ini katanya lagi bukan semata terkait perbedaan pandangan di Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perindustrian, karena juga terkait instansi Kementerian yang lain seperti Kementerian PUPR dan Kementerian Keuangan.

Dari data di jagat maya di bulan Januari 2020 lalu (informasi dari Kementerian Perhubungan berdasarkan data dari Kementerian PUPR), biaya kerugian kerusakan jalan akibat truk ODOL mencapai Rp 43 triliun.

Meski pelaku usaha dan industri angkutan masih nampak keberatan dengan penerapan kebijakan ODOL, namun dari sisi produsen optimis pasar kendaraan niaga di semua kategori (kendaraan komersial kecil, LDT, dan MDT) pada tahun 2020 ini akan naik dibanding pencapaian tahun 2019 lalu.

Berdasarkan data yang jbkderry.com dapatkan waktu menghadiri kegiatan Media Gathering Mitsubishi Fuso pada tanggal 11 Februari 2020 di Jakarta, pasar kendaraan niaga kategori LDT akan naik 4% dari 66.507 unit menjadi 68.900an unit pada tahun 2020.

Sementara untuk segmen MDT diproyeksi naik 16% dari 21.988 unit (2019) menjadi 25.600an unit pada tahun 2020 ini.

Itu saja dulu informasi kelas secangkir kopi untuk Minggu 23 Februari 2020, semoga ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s