DUNIA SAMBUT RAMADAN DI TAHUN TERBURUK DAN ANCAMAN VIRUS CORONA

jbkderry.com – Jumat 24 April 2020, sekitar 1,8 miliar masyarakat beragama Islam di seluruh dunia mulai akan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Tapi sebagaimana sudah kita ketahui bersama, bulan suci Ramadan tahun ini mungkin hadir di salah satu tahun terburuk sepanjang sejarah bumi, di tengah merebaknya pandemi virus corona.

Media kelas secangkir kopi jbkderry.com pun coba melakukan penelusuran di jagat maya dan ketemulah salah satu sumber di Reuters.com melalui sebuah artikel berjudul “In shadow of coronavirus, Muslims face a Ramadan like never before” yang diunggah pada tanggal 20 April 2020.

Dan berikut ulasannya…

Bulan suci Ramadan buat umat Muslim sedunia, salah satu momen sakral untuk berkumpul bersama bersama keluarga dan orang-orang dekat lalu kemudian melakukan ibadah dan doa bersama, melakukan refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan kemudian juga melakukan zakat.

Tapi Ramadan tahun ini sudah pasti berbeda. Pasalnya sudah banyak himbaun di banyak negara mulai dari Senegal hingga di kawasan Asia Tenggara untuk tidak beribadah di Masjid-Masjid.

Tidak akan ada lagi momen beribadah secara berjamaah atau bersama-sama, bila ada yang melanggar kalau di Indonesia sendiri memang sejauh ini nampak belum ada bentuk hukuman yang jelas dari pemerintah ataupun otoritas terkait.

Pemerintah dan para otoritas terkait di negeri ini memang terkesan ambigu dalam mengambil keputusan. Di satu sisi ada himbauan dan larangan, tapi petunjuk teknis mengenai detail item pelaksanaan di lapangan dikembalikan kepada pemerintah daerah masing-masing, sementara kebijakan pusat seperti hanya bermain di level yang normatif, sekaligus menunjukkan belum adanya sebuah skenario kerja yang besar dan terperinci.

Belum lagi bagaimana bentuk hukuman jika terjadi pelanggaran, semuanya seperti diambil secara situasional dan aksidental.

Kembali ke soal perayaan Ramadan di tahun terburuk ini.

Di Algiers (ibukota Algeria/Aljazair di Afrika), seorang penduduknya bernama Yamine Hermache (67 tahun) mengatakan pada artikel tersebut, jika pada Ramadan akan sama sekali berbeda.

Biasanya di bulan Ramadan, ia menerima kerabat dan tetangga untuk menikmati kopi dan minuman dingin di antara waktu senja hingga menjelang fajar, namun tahun ini kemungkinannnya akan sangat berbeda.

“Kami kemungkinan tidak akan mengunjungi mereka, dan mereka pun tidak akan mengunjungi kami. Virus corona telah membuat semua orang takut, bahkan pada tamu-tamu yang terhormat (berstrata dan berpendidikan tinggi).”

Di negerinya dimana Masjid-Masjid telah ditutup, sang suami Mohamed Djemoudi (73 tahun) menuturkan bentuk kekhawatiran yang lain. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Ramadan tanpa Tarawih.”

Persoalan menyambut Ramadan di Saudi Arabia pun terjadi, dimana masyarakat memerintahkan untuk tidak berkumpul bersama saat melakukan ibadah seiring meningkatnya jumlah penderita virus corona.

“Kami semua harus berada di kapal yang sama, jika kita memiliki komitmen bersama dapat selamat tiba di bibir pantai. Ya, memang biasanya banyak aktivitas sosial selama Ramadan, tapi tahun ini akan berbeda, saya mendesak semua orang untuk mematuhi peraturan jaga jarak,” kata Menteri Kesehatan Tawfiq al-Rabiah, pada Senin 20 April 2020.

Namun pada Rabu 22 April 2020, Raja Salman dikabarkan telah menyepakati pelaksanaan Tawarih di dua Masjid suci, namun dengan pembatasan jumlah orang yang boleh melaksanakannya.

Dalam artikel di Reuters.com pada hari itu dengan judul “Saudi king Salman approves performing Tarawih in the two holy mosques“, pihak pemerintahan Arab Saudi juga tengah berencana mengurangi jam malam di beberapa kota selama bulan Ramadan, agar orang-orang dapat ke toko dan membeli kebutuhan-kebutuhan pokok, namun tetap dalam prosedur wilayah yang dibatasi.

Di Jordania, pihak pemerintahan tengah berkordinasi dengan negara-negara tetangganya di kawasan Arab, agar dapat mengeluarkan semacam fatwa mengenai ritual Ramadan yang diizinkan tahun ini, namun sebelum itu terjadi jutaan masyarakat Muslim dikabarkan sudah mengetahui jika pelaksanaan Ramadan tahun ini akan sama sekali berbeda.

Dari Afrika hingga Asia, virus corona telah berhasil mendatangkan situasi suram dan penuh ketidakpastian.

Situasi momen tahun terburuk merayakan Ramadan pun terasa di Cairo, ibukota Mesir yang berpenduduk sekitar 23 juta, virus corona juga sudah menjadi momok yang sangat buruk.

“Orang-orang tidak berani ke toko, mereka takut terjangkiti virus. Ini merupakan tahun terburuk. Dibanding situasi tahun lalu, kami berhasil berjualan bahkan seperempatnya saja,” kata Samir El-Khatib, seorang pengelola kios di sebuah Masjid bersejarah al-Sayeda Zainab.

Sepanjang Ramadan biasanya pedagang jalanan di ibukota Mesir menghiasi meja dagangannya dengan kurma dan aprikot, buah-buahan manis untuk berbuka puasa, dan lentera-lentera tradisional.

Tapi hal itu dipastikan tidak berlangsung, seiring pemerintah telah memberlakukan jam malam malam dan melarang sholat bersama, serta kegiatan lainnya, sehingga tidak banyak orang yang berkunjung dan melihat-lihat.

“Tahun ini tidak ada suasana Ramadhan sama sekali,” kata Nasser Salah Abdelkader (59 tahun), seorang manajer di pasar saham Mesir, salah seorang yang memberanikan diri untuk berjalan-jalan keluar. “Aku biasanya datang ke pasar, dan sejak awal orang biasanya bermain musik, duduk-duduk, hampir menghabiskan waktu sepanjang malam di jalanan.”

Pudarnya nilai kebersamaan merayakan Ramadan pun terjadi di Algeria (atau Aljazair). Para pemilik restoran pun dikabarkan kebingungan mencari cara untuk menawarkan menu buka puasa, karena tempat usaha mereka harus ditutup.

Artikel di Reuters itu pun menyebutkan mengenai kondisi menyambut Ramadan di Indonesia yang merupakan negara dengan populasi masyarakat Muslim terbesar di dunia.

Salah satu narasumber di artikel tersebut menyebutkan jika ia harus merelakan tidak menjalani tradisi mudik pada akhir periode Ramadan.

“Segala momen dan tradisi kebersamaan nampaknya tidak bisa dilaksanakan pada tahun ini, tidak ada momen buka puasa bersama, tidak ada doa bersama di Masjid, bahkan tidak ada perbincangan hangat dengan sesama teman. Saat momen Idul Fitri tiba, saya pun berencana berinteraksi dengan keluarga dan kerabat melalui Zoom ketimbang harus pulang kampung.”

Link artikel aslinya bisa di-klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s