NGOBROLIN KEHIDUPAN KERJA DI CINA PASCA KEBIJAKAN LOCKDOWN DICABUT

WUHAN, CHINA – APRIL 28: (CHINA OUT) A man wears a mask while riding a bicycle past the gate of Zhongshan Park on April 28, 2020 in Wuhan, China. Zhongshan Park re-opened to the public as the government started lifting outbound travel restrictions placed on April 8 after almost 11 weeks of lockdown to stem the spread of COVID-19. (Photo by Getty Images)

jbkderry.com – Ngobrolin kehidupan manusia di berbagai belahan dunia di tengah pandemi Covid-19 rasanya sudah banyak diulas oleh media-media mainstream.

Selain mengabarkan kondisi terkini, banyak juga muara informasi yang justru meningkatkan rasa kekhawatiran.

Menelaah hal tersebut, media kelas secangkir kopi coba cari-cari referensi bagaimana gambaran kehidupan pasca pandemi, dan ketemulah sebuah artikel panjang di BBC.com yang mengulas kehidupan di Cina, pasca dicabutnya kebijakan lockdown oleh pemerintah. Link artikel aslinya bisa disimak di ujung artikel ini.

BEIJING, CHINA – MARCH 02: People wait in a queue to have their temperature and identity information checked at an entrance to office on March 2, 2020 in Beijing, China. (Photo by Hou Yu/China News Service via Getty Images)

Jadi menurut artikel berjudul “Life after lockdown: How China went back to work” yang diunggah BBC.com pada 1 Mei 2020, di saat banyak belahan dunia, termasuk Indonesia, masih “terperangkap” pada kebijakan isolasi wilayah yang diterapkan oleh pemerintahnya masing-masing, di Cina tepatnya di Provinsi Hubei tempat pertama kali virus corona disebut pertama kali ditemukan, orang-orang di sana kini sudah dikabarkan mulai kembali ke dalam kehidupan pekerjaan yang normal.

Tapi seberapa normal kehidupan pasca kebijakan lockdown di sana? Mari ikuti sama-sama hasil ulasan dari media terkemuka di Inggris Raya tersebut.

Kebijakan lockdown ketat dan memaksa setiap orang tinggal di dalam rumah di Wuhan sendiri telah dimulai pada tanggal 23 Januari 2020, dan setelah lebih dari dua bulan tepatnya pada tanggal 29 Maret 2020 (sekitar 68 hari), kehidupan di Wuhan yang merupakan ibukota Provinsi Hubei mulai dibuka kembali oleh pemerintah setempat, dan orang-orang mulai kembali bekerja.

Meski orang-orang mulai kembali memadati fasilitas subway, namun ada pemandangan yang agak berbeda. Semua orang nampak mengenakan masker. Di luar hal itu, kehidupan bisnis disebut kembali berjalan normal. Ditandai di antaranya banyak orang yang kembali asyik dengan telepon genggamnya masing-masing.

Meski kehidupan bisnis mulai kembali berputar, namun di dalamnya dunia bisnis itu sebenarnya berjalan lambat. Di Chǔhé Hànjiē, kawasan perbelanjaan dimana brand internasional dan lokal beraktivitas, surutnya kehidupan bisnis sangat terasa.

Jika di tahun 2019, rata-rata ada 60.000 orang yang berseliweran, di hari itu menurut narasumber BBC.com hanya ada sekitar 10.000 orang yang ada per  hari.

Pihak manajemen di kawasan bisnis tersebut dikabarkan mencoba mengundang para pebisnis lokal untuk mengisi unit yang kosong, namun rata-rata mengabarkan bisnis tengah berjalan tidak baik. Di sisi lain, sebagian mitra para pelaku bisnis dari brand lokal pun di kawasan tersebut pun akhirnya lebih memilih menutup unit bisnis mereka, dengan alasan tidak memiliki uang dan ketidakmampuan membayar biaya sewa, meski pihak manajemen sendiri telah menawarkan bantuan.

Para pelaku bisnis yang masih bertahan dan tidak tutup pun harus lebih ekstra hati-hati untuk tidak menjadi titik yang dapat kembali mengaktifkan virus corona.

Manajemen restauran di Wuhan misalnya kini telah menutup layanan mereka pada pukul tujuh malam, dan tidak membolehkan orang masuk dan duduk di dalam. Hal ini membuat hanya beberapa orang yang bersedia menerima layanan seperti itu, atau dengan kata lain bersedia memesan dan membawanya pulang.

Peraturan Baru di Perkantoran

Di bulan Februari 2020, jutaan pekerja di Cina terpaksa bekerja dari rumah sekaligus menjadi pengalaman baru bagi mereka.

Kini, meski beberapa di antaranya telah boleh kembali bekerja di kantor, mereka dihadapkan dengan aktivitas ekonomi yang lebih rendah dibanding biasanya, sehingga beberapa perkantoran mesti berjuang untuk mempertahankan eksistensi, di antaranya dengan mengurangi jam kerja dan upah.

Hal ini memang agak berbeda dengan di Chǔhé Hànjiē yang merupakan salah satu kawasan belanja paling populer di Wuhan, milik perusahaan konglomerat Wanda Group.

Di sana, para karyawan manajemen mesti bekerja ekstra waktu hingga pukul sembilan malam, lebih panjang dibanding biasanya, untuk kembali menghidupkan proses bisnis seperti sebelumnya.

Untuk merangsang kehidupan bisnis, beberapa pemerintah daerah di Cina telah menerapkan kebijakan akhir pekan menjadi 2,5 hari, sehingga diharapkan dapat merangsang konsumen untuk berbelanja, seperti halnya di Provinsi Jiangxi, di bagian Cina Timur.

Beberapa Provinsi di Cina yang telah menerapkan kebijakan akhir pekan serupa adalah Hebei, Gansu, dan Zhejiang, dengan tujuan yang sama yaitu dapat merangsang aktivitas ekonomi.

Ya, mayoritas masyarakat di Cina masih didera kekhawatiran akan potensi gelombang kedua dari infeksi virus tersebut. Banyak perkantoran dan apartemen masih menerapkan prosedur pengecekan suhu badan bagi orang yang akan masuk.

Di perkantoran pun, selain kewajiban mengenakan masker, terdapat pula kebijakan untuk duduk berjauhan satu sama lain, namun situasi ini masih dianggap jauh lebih enak ketimbang bekerja dari rumah yang dinilai tidak seefisien dibanding ketika bekerja di kantor.

Beberapa perkantoran juga menerapkan jam kantor yang lebih fleksibel, sepanjang tetap memenuhi ketentuan sembilan jam kerja (termasuk jam makan siang). Hal ini juga karena turut menyesuaikan dengan kebijakan social distacing pada fasilitas transportasi publik, yang membuat banyak orang terlambat, sekaligus mencegah banyak orang datang dan meninggalkan kantor secara waktu bersamaan.

Sebenarnya tidak semua wilayah di Cina yang terinfeksi Covid-19 secara serius, seperti di Provinsi Yunna, sehingga suplai makanan dan sayuran masih tetap stabil. Meski demikian, mereka tetap merasakan kebijakan pencegahan, seperti mereka tidak dapat dulu diperbolehkan memasuki kawasan kolam untuk publik.

Salah satu sektor bisnis yang paling terpukul, seperti halnya banyak di belahan dunia, yaitu bisnis pariwisata, karena perjalanan keluar dan masuk ke negeri tersebut masih sangat terbatas.

GUANGZHOU, CHINA – APRIL 27: Students have lunch while keeping distance at No.16 Middle School on the first day of its reopening on April 27, 2020 in Guangzhou, Guangdong Province of China. The Coronavirus (COVID-19) pandemic has spread to many countries across the world, claiming over 206,000 lives and infecting nearly 2.9 million people. (Photo by Chen Jimin/China News Service via Getty Images)

Dunia pendidikan yang ditutup sejak akhir Januari 2020, secara bertahap telah dibuka kembali pada pertengahan Maret 2020, dimana disebutkan ada sekitar 278 juta jumlah siswa yang ada di Cina saat ini.

Provinsi yang dikabarkan paling terakhir akan membuka akses persekolahan (tentu) saja di Provinsi Hubei yang sedianya akan dimulai lagi pada awal Mei 2020 ini.

Di sekolah-sekolah kebijakan pencegahan agar tetap sehat juga diberlakukan, seperti waktu mulai pelajaran yang bertahap, pengecekan suhu siswa, penggunaan masker, dan social distancing.

Sama halnya dengan banyak problema orang tua di mana-mana, termasuk di Indonesia, para orang tua murid di Cina juga merasakan kewalahan akibat kebijakan lockdown yang membuat mereka mencapat tambahan pekerjaan ekstra mensupervisi pekerjaan anak mereka, disamping tetap harus mengurus pekerjaan mereka demi mendapatkan penghasilan.

Artikel ini sendiri ditutup dengan satu paragraf yang menyebut, di saat banyak negara lain mencari tahu bagaimana kehidupan di Cina pasca kebijakan lockdown dicabut, para masyarakatnya sendiri mengatakan masih banyak ketidakpastian dan kecemasan di Cina.

Mereka juga masih didera perasaan was-was, karena banyak negara di dunia yang masih berjibaku melawan virus tersebut. Seorang narasumber di artikel tersebut mengatakan, kehidupan di Cina masih dapat dikatakan juga masih dalam proses pemulihan, belum dalam tahap bebas.

“Sepanjang di negara-negara lain, virus ini masih merebak, kami tidak dapat mengatakan kami aman, karena jika negara-negara lain tidak dapat mengatasinya, kami pun dapat terinfeksi kembali.”

Link artikel aslinya dapat di-klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s