MENYUSURI PAGI SENDIRI DI BUKIT HAMBALANG PASCA LEBARAN

jbkderry.com – Kabarnya salah satu kunci Jepang bisa mengatasi upaya penyebaran pandemi covid-19 adalah faktor kedisiplinan dan level kewaspadaan masyarakatnya.

Pemerintah Jepang kabarnya telah mencabut status Darurat Nasional terkait pandemi Covid-19 pada Senin 25 Mei 2020.

Sekali lagi ini tidak terlepas dari faktor kedisiplinan dan level kewaspadaan masyarakatnya, termasuk dalam hal  menjaga kesehatan dan menghindari obesitas melalui olahraga dan menjaga pola makan.

Nah, terinspirasi dan termotivasi dengan hal itu, Kamis 28 Mei 2020 pukul 6 pagi sang empu jbkderry.com meninggalkan markas kecilnya di wilayah pinggiran, dengan tetap mengedepankan protokol umum pake kacamata dan masker.

Rute tujuannya Bukit Hambalang, kembali. Kenapa ke sana? Rute ini medan tanjakannya lumayan ajib. Kalau non stop gowes dari jembatan sebelum kawasan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), bisa sampai ke Puncak 1 Bukit Hambalang dalam waktu 40 – 45 menit.

Perjalanan pagi itu juga untuk ngecek sekaligus beradaptasi dengan rantai baru 9-speed yang dibeli secara online beberapa hari lalu. Ternyata kinerjanya jadi beda, dan perlu adaptasi transisi gigi di tanjakan. Selain RD juga mulai sudah masuk era harus ganti juga.

Alhasil, perjalanan gowes pagi itu cuma sampai ujung gerbang kompleks militer di kawasan BNPT dan langsung balik ke arah pulang.

Ya, sang empu media kelas secangkir kopi ini menyerah di menit ke-27 atau ke-28 di tanjakan kali ini, padahal tinggal sekitar 12 sampai 17 menit lagi sampai di Puncak 1 Bukit Hambalang.

Tapi yah ini bukan soal lomba ketahanan, cukuplah pagi ini sampai di sini dulu, lain kali jika ada umur panjang pasti balik lagi.

Perjalanan sepedaan di tengah masa semi-lockdown ini ada beberapa cerita unik sepanjang perjalanan. Pertama, di jalanan ketemu cukup banyak orang gila dan umumnya laki-laki. Hmm, apakah ini hanyalah kebetulan, fenomena lazim, atau justru dampak dari kesulitan ekonomi di bawah yang makin akut?

Di sebuah SPBU selepas kolong Sentul (yang di atasnya adalah lintasan Tol Jagorawai), nampak ada satu laki-laki gila yang membawa potongan kayu, berdikir di pinggir jalan, lalu mendekat saat Derry Journey melintas di depannya.

Orang gila itu sempat berucap sambil memegang kayu di tangannya, ia seperti memperlakukannya seperti sebuah pistol, “Yah, gak bisa nyala.”

Sontak sang empu media kelas secangkir kopi ini cukup kaget, sementara orang gila itu langsung terduduk di pinggir jalan sambil seolah-olah memperbaiki kayu yang dianggapnya seperti pistol itu.

Fenomena kedua, adalah sekitar 500 meter sebelum ketemu orang gila tadi. Tepat di seberang pintu masuk tol Sirkuit Sentul ada posko PSBB yang diisi dua orang perempuan berpakaian PSBB. Keduanya sibuk ngobrol sambil melihat telepon genggamnya, tidak ada kawan lain yang nampak menemani mereka di posko PSBB itu.

Derry Journey jujur tidak tahu pasti apa fungsi posko PSBB dibanding kondisi normal. Pasalnya tidak ada nampak aktivitas yang berbeda di sana, dan nampak jadi seperti formalitas saja, persis dengan situasi posko PSBB di Bambu Kuning, Bojong Gede.

Fenomena ketiga adalah aktivitas ekonomi yang nampak mulai menggeliat setelah sekitar dua bulan terakhir memasuki fase “hibernasi”. Ya, jalanan memang belum seramai biasanya, tapi aktivitas ekonomi mulai nampak menggeliat kembali, termasuk beberapa kawasan pabrik atau industri di sekitar Sentul nampak aktivitas buruh yang mulai masuk kerja dan para sekuriti kantor yang berjaga di pinggir jalan untuk membantu mereka menyeberang dan masuk ke dalam kawasan industri.

Fenomena keempat adalah cukup banyak orang yang mulai mengikuti protokoler mengenakan masker selama berada di ruang publik dan jalan raya, termasuk seorang ibu penjual bubur di depan pelataran Indomaret dekat di simpang 4 Sentul-Pakansari-Jalan Raya Bogor.

Di sini meski didera rasa khawatir dengan potensi pandemi, Derry Journey akhirnya mampir di situ. Isi perutnya sudah sedemikian lapar minta diisi. Tanpa proses isi bahan bakar sesegera mungkin, rasanya kapasitas energi tidak cukup banyak lagi buat menggenjot pedal sepeda hingga tiba di tujuan pulang.

Sang ibu penjual bubur itu nampak cukup bersih dalam menyuguhkan dagangan buburnya, ia pun mengenakan masker dan sarung tangan plastik kalau pegang makanan. Sayang kontras, dua anaknya yang ikut ada di sekitar gerobak K5 tersebut malah tanpa masker, salah satunya masih batita.

Hmm, rasanya himbauan protokoler hanya terhenti di layar kaca tivi mereka, tidak ada bedanya siapapun yang bicara lagi dari perwakilan otoritas manapun, mau cebong, kampret, kadrun, ataupun yang ngaku presiden acara debat2 di tipi yang populer itu.

Di bawah sini, punya aturan protokoler sendiri sesuai kamus hidup masing-masing.

Olahraga dan tetap jaga kesehatan yuk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s