BRAZIL DAN CORONAVIRUS

jbkderry.com – Tadinya di Minggu pagi ini, saya ingin berbagi pandangan soal narasi, “Apakah naik sepeda dengan masker itu berbahaya dan bisa menyebabkan kematian?”, tapi urung dulu, saya pikir tema satu ini tidak kalah menariknya.

Semoga ada manfaatnya…

Minggu pagi WIB 28 Juni 2020, media Reuters.com mengangkat sebuah artikel berjudul “Brazil coronavirus cases rise past 1.3 million, deaths total 57,070“.

Dalam artikel itu disebutkan jika ternyata dalam 24 jam terakhir, jumlah kasus coronavirus di Brazil meningkat 38.693 kasus, dimana jumlah kematian terbaru 1.109 nyawa manusia.

Data statistik terbaru ini sekaligus menambah daftar kasus penderita coronavirus menjadi 1.313.667 kasus dan jumlah kematian menjadi 57.070 kasus secara total.

Buat saya, menarik memperbandingkan kasus di Brazil dan Indonesia, karena sama-sama kategori negara “berkembang” dan jumlah penduduk yang besar.

Berdasarkan informasi di jagat maya, saat ini Brazil memiliki jumlah penduduk yang juga tembus di angka 200 juta, walaupun secara populasi total masih kalah dari Indonesia.

Di Indonesia sendiri, per tanggal 27 Juni 2020 tercatat rekor kasus baru sejauh ini, 1.385 kasus baru.

Kabar yang berkembang, angka ini tidak terlepas dari upaya pemerintah yang kabarnya semakin menggalakkan upaya treking penyebaran pandemi, lebih agresif dibanding sebelumnya.

Langkah ini justru kontradiktif dari kebijakan Trump di Amerika Serikat yang ingin menurunkan intensitas pengecekan dan pendataan jumlah kasus baru coronavirus, karena dianggap hanya akan menciptakan rasa kekhawatiran yang lebih tinggi di masyarakat.

View this post on Instagram

😳

A post shared by Jamie Foxx (@iamjamiefoxx) on

Ya, dunia goyah, masih bingung meraba bagaimana menetapkan langkah atau protokoler penanganan pandemi satu ini.

Saya sendiri ragu dengan kebijakan negara mengatasi pandemi, bukan semata pada Presidennya. Saya percaya di negeri ini, Presiden tidak memiliki lagi kekuatan yang absolut dan determinan. Terlalu banyak instrumen lain yang sebanding yang membuatnya nampak semakin tunduk dan kompromistik.

Saya juga tidak percaya dengan update data dari pemerintah, apakah itu betul-betul angka yang sebenarnya yang disubmit dari bawah, siapa yang bisa memverifikasi kebenarannya setiap data yang disubmit tiap daerah?

Bagaimana jika data ini bagian manipulasi dunia medis untuk mendapatkan dana pemasukan yang lebih besar? Bukankah kata Erick Tohir, satu orang pasien untuks sembuh, estimasi biaya yang dibutuhkan antara Rp 115 juta hingga Rp 235 juta.

Bukan rahasia lagi, jika polemik ambruknya dana BPJS karena dunia medis turut menggunting dalam lipatan dalam penanganan pasien.

Bukankah memang ada mafia di dunia media kita, di antaranya ditandai dengan dugaan penyelewengan wewenang alat-alat kesehatan dari luar negeri.

Saya percaya sistem politik dan para mafia besar di negeri ini sudah sedemikian kotor, jadi siapapun yang naik di kursi Presiden, siapapun dengan sistem politik dan kondisi seperti ini, tidak akan punya sapu yang cukup besar untuk membersihkan.

Apatis, pesimis? Hmm, enggak juga, pasti ada upaya pembersihan, tapi sebaiknya memang tidak usah berharap terlalu besar, nanti kecewa malah.

Biasa-biasa saja merespon dan menyikapinya, lebih penting lagi setiap individu bisa mengambil sikap preventif masing-masing.

Seorang kawan baik beberapa hari lalu mengatakan, ke depan tidak cukup lagi strategi ‘survival of the fittest‘ (hanya yang terkuat yang bisa bertahan), harusnya sudah ‘survival of the smartest‘ (hanya yang pintar dan terjeli menyikapi yang bisa selamat).

Atas dasar itulah, pekan lalu saya menghadap pemilik yayasan ketiga anakku sekolah, untuk menyatakan cuti atau berhenti sekolah selama setahun.

Meski pembicaraan tidak menemui titik temu, saya justru kembali berjalan anti mainstream.

Di saat di banyak wilayah, saya lihat orang tua murid yang murka dengan kebijakan di sejumlah wilayah soal regulasi penerimaan murid baru yang berubah.

Ataupun saat beberapa kenalan memamerkan anak-anak mereka yang wisuda, saya malah kembali berjalan anomali. Kemarin kakak Oka sebenarnya rada kecewa, karena mestinya dia ikutan pesta perpisahan dan wisuda tamat SD di sekolah.

Meski walikelasnya sudah mengatakan via pesan WA ke bundanya, ada protokoler new normal di sekolah, tapi saya abaikan.

Alhasil, siangnya kemarin Sabtu 27 Juni 2020, walikelasnya datang sampai portal perumahan yang sudah ditutup sejak sepekan terakhir, untuk menyerahkan medali kelulusan ke kakak Oka.

Bukannya otoriter, saya sudah mengatakan hal ini dan berdiskusi dengan anak-anak selama sebulan terakhir, bahkan saya bilang kepada bunda dan anak-anaknya, kalau mereka berhak menyalahkan aku sebagai bukan panutan yang baik, yang mana memang tidak pernah jadi panutan yang baik.

Saya ini sudah terlanjur memilih jalan menjadi anak bandel yang abadi, satu-satunya jalan hidup yang saya tekuni hingga kini, warna sejatiku.

Saya hanya percaya kita semua dituntut lebih jeli dan peka di tengah situasi ‘normal baru’ ini, harus lebih taktis dan waspada.

Bisa jadi, dan sangat bisa jadi strategi saya keliru, tapi setidaknya saya sudah memilih yang terbaik di antara terburuk.

Lagipula saya sudah pesimis dengan kualitas pendidikan kita, jadi saya pikir ndak papalah anak-anak mundur setahun, ketimbang saya harus kehilangan mereka selamanya.

disclaimer: Pandangan ini hanya pandangan pribadi saya, tidak layak, dan sangat tidak layak untuk diikuti, karena saya bukanlah influencer ataupul K.O.L, media ini hanyalah media kelas secangkir kopi.

Sebuah catatan tidak penting (seperti biasa) buat para penunggu di tepi jalan, sebelum melanjutkan perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s