NGOBROLIN KELUH KESAH PARA YOUTUBER GENERASI PERTAMA DI INDONESIA

jbkderry.com – Sebenarnya waktu ingin unggah artikel ini, ada unsur dilema juga, karena informasi tentang mobil-mobil yang menarik perhatian lagi lumayan banyak di jagat maya di luar negeri sana, dan rasanya cukup apik kalau diceritakan kembali ke dalam bahasa Indonesia.

Misalnya soal “si kembar” Toyota Raize dan Daihatsu Rocky yang kabarnya akan dihadirkan di Indonesia di tahun 2021 mendatang, atau lebih apik lagi kalau Ineos Grenadier sang penjelajah yang sosoknya mengingatkan kita pada Land Rover Defender dengan dukungan mesin diesel 6-silinder segaris dari BMW.

Kurang apa coba untuk membahas jip super seksi seperti Ineos Grenier seperti yang bisa dilihat di IG official AutoCar India di bawah ini…

View this post on Instagram

Think the Ineos Grenadier looks familiar? That's because it's inspired by the original Land Rover Defender. British billionaire Sir Jim Ratcliffe's desire to keep the iconic LR alive has culminated in the creation of Ineos Automotive, and its first model, the Grenadier 4×4, which retains the essential ingredients of the Defender including its utilitarian shape and short overhangs, the body-on-frame construction and live axles, but will also be suitably modern in terms of features and connectivity, and will be powered by 3.0-litre, inline-six petrol and diesel engines sourced from BMW. It's engineered by 4×4 specialists Magna Steyr, and there will also be a pick-up version some time down the road. What do you think of the Grenadier? #autocarindia . . . . . . #cars #carsofinstagram #instacar #carsofinsta #amazingcars247 #ineos #ineosautomotive #ineosgrenadier #grenadier #4×4 #offroader #offroad4x4 #offroadnation #offroading #pickuptruck #pickup #carnews #automotivenews #newcar #defender #landrover #landroverdefender

A post shared by Autocar India (@autocar_india) on

Tetapi…

Antusiasme media kelas secangkir jbkderry.com di akhir pekan ini, Sabtu 4 Juli 2020, lebih tertarik membahas soal gejala disrupsi di dunia per-YouTube-an Indonesia.

Jadi sekitar sepekan lalu, salah satu kanal YouTube yang disebut-sebut sebagai salah satu generasi pertama dunia per-YouTube-an di Indonesia yaitu SkinnyIndonesia24, mengunggah konten akan pamit dari platform media sosial YouTube per tahun 2021 mendatang.

Dalam konten yang mereka (kakak adik Jovial Da Lopez dan Andovi Da Lopez) beri judul “Tahun Terakhir di YouTube I Maaf & Terima Kasih”, keduanya menceritakan alasan masing-masing mengapa memilih cabut dari YouTube mulai tahun depan.

Hal yang paling menarik perhatian adalah ketika Jovial Da Lopez sempat mengemukakan jika salah satu alasannya cabut dari YouTube, karena sistem (dan algoritma baru) yang berjalan di YouTube saat ini tidak lagi menghargai kualitas konten dari para konten kreator, khususnya dari para YouTuber Indonesia generasi awal.

Ada satu kutipan menarik dari Jovi soal warna awal YouTube yang diasumsikan hilang melalui algoritma baru yang berlaku saat ini, yaitu dulu YouTube menjadi wadah bagi individu kreatif yang selama ini tidak punya saluran “bersuara” menjadi bersuara (going voice to the voiceless).

Belum lagi soal fenomena artis yang pada sibuk ber-YouTube yang berbondong-bondong ke YouTube khususnya di tengah Pandemi ini, menyusul ruang kerja reguler mereka yang terganggu. Sebutlah Taulany TV, Ari Lasso, Judika, dan masih banyak lagi.

Hal yang menarik adalah penyataan Deddy Corbuzier ketika berdialog dengan Ashanty di vlog Deddy Corbuzier yang berjudul “ASHANTY, ATTA AUREL SETINGAN KAN⁉️JAWAB JUJUR”, silakan di simak pada menit 17:08…

Jadi menurut Deddy Corbuzier, YouTube itu mestinya long game alias perjalanan panjang, jadi gak bisa instan membangunnya. Ya, meski seiring jalannya waktu khususnya dalam kondisi pandemi seperti ini juga tidak bisa disalahkan jika para artis yang biaya hidupnya terbiasa tinggi itu akan berusaha mencari jalan untuk terus mengejar pendapatan ekonomi yang besar sesuai standar hidup mereka.

Meskipun kata Ashanty, sudah telat mestinya kalau dibangun sekarang-sekarang ini.

Kembali ke soal SkinnyIndonesia24 dan sikap pamitannya.

Dari video tersebut, para YouTuber Indonesia generasi awal pun banyak yang angkat bicara di kanal YouTube masing-masing, mulai Raditya Dika, Kevin Hendrawan (yang ini terhitung belum lama juga, baru gabung di tahun 2015), Pandji Pragiwaksono, Tim2One, hingga Edho Zell.

Ada yang menarik dari pernyataan Edho Zell dalam vlognya yang berjudul “Sebenarnya saya juga sudah mau berhenti sejak lama…” seperti yang bisa dilihat di bawah ini (saya sendiri ndak nonton tuntas, poinnya sudah bisa ditangkap di bagian tengah vlog)…

Analisa Kelas Secangkir Kopi

Menarik hal yang dikatakan oleh Edho Zell mengenai poin yang kurang lebih sama yang disampaikan oleh Jovial Da Lopez (SkinnyIndonesia24), yaitu apresiasi dari YouTube yang berubah, algoritma baru YouTube yang dianggap tidak pro lagi pada konten kreator generasi awal yang dinilainya lebih mengedepankan kualitas, hingga fenomena artis-artis yang pada berlomba-lomba masuk YouTube.

Menarik pernyataan Edho Zell (di vlog itu) soal ketika dia mengenang upaya dari teman-temannya termasuk dirinya untuk mengajak orang-orang menggunakan platform YouTube untuk berkarya, dan ketika ajakan itu disambut, nampak dirinya justru tidak siap dengan ketika ajakannya itu justru berhasil mengundang banyak orang masuk YouTube termasuk dari kalangan artis.

Dalam analisa kelas secangkir kopi, inilah fenonema disrupsi digital yang juga tidak bisa disanggah. Bukan soal lagi jika para pelopor menjadi pihak yang terlupakan, sistem terus berjalan dan berkembang, dan di sisi lain antusiasme serta minat termasuk selera konsumen dalam hal ini audiens YouTube memang lebih suka konten-konten yang katakanlah tidak bermutu, menjual kemewahan dan kesombongan, hingga yang bisa dinilai tidak termaafkan dalam tataran etika dan moral ketika bermuatan konten settingan yang jelas isinya memanipulasi alias tidak nyata, sederhananya boong-boongan doang biar viral.

Toh, demand alias permintaan audiensnya memang ada dan suka dengan konten boongan yang pamer kemewahan, kesombongan, hingga berbau kontroversi.

Selera konsumen penonton Indonesia secara umum memang seperti itu, tidak bisa ditolak.

Sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi di YouTube, dalam dunia penyiaran teks dan foto, entah itu namanya karya jurnalistik atau hanya sekadar karya tulisan dan foto dalam format blog, fenomena ini juga sudah terjadi.

Dengan kekuatan SEO, AI, dan Big Data, sebuah karya tulis dengan foto baik di media mainstream ataupun blog bisa dimanipulasi sedemikian rupa dengan teknologi digital untuk sampai ke target audiens yang dituju, bahkan ketika si Acho atau Ucup lagi melakukan ritual perenungan kloset pun bisa sampai di smartphone yang ada di tangannya.

Lantas dengan fenomena-fenomena sistem yang sudah tidak lagi support kepada karya kita untuk dilihat banyak orang, apakah kita yang suka membuat konten harus berhenti?

Di sinilah kritikan Derry Journey pada generasi muda, jika karya itu tidak harus dilihat banyak orang, disambut banyak orang, serta harus mendapat apresiasi dan tepuk tangan banyak orang, jika visi awalnya adalah untuk menyampaikan suara yang selama ini tidak terdengar.

Ya, media kelas secangkir kopi jbkderry.com dan kanal YouTube Derry Journey selama ini sudah konsisten melakukannya.

jbkderry.com sudah ada sejak tahun 2009, dan kanal YouTube Derry Journey yang sudah ada sejak tahun tahun 2011.

Ya, konten pertama di kanal YouTube Derry Journey memang baru ada 24 Desember 2016, dan hingga artikel kelas secangkir kopi ini dibuat sudah ada 201 konten video kelas secangkir kopi.

Apakah sambutannya selama kurun waktu bertahun-tahun itu bagus, dapat perhatian berlimpah seperti yang dilakukan oleh trio kwek-kwek?

Jauh, konten-kontek artikel dan vlognya jauh dari kesan populer, namanya juga konten kelas secangkir kopi, tapi satu hal yang pasti…

SEMANGAT DI MEDIA KELAS SECANGKIR KOPI INI, UNTUK MEMBUAT SUARA YANG TIDAK TERDENGAR MENJADI TERDENGAR (MESKIPUN ITU TERDENGAR OLEH DIRI SENDIRI SEKALIPUN).

Jovial Da Lopez mungkin melupakan satu variabel penting, salah satu ciri khas generasi millenial dan post-millenial, yaitu mudah rapuh dan pergi meski kualitasnya sangat tinggi.

Jovi bilang “YouTube mestinya going voice to the voiceless!”

Jika itu benar, lalu kenapa harus berhenti menyuarakan suara yang tidak terdengar, atau memang anak-anak muda ini justru punya saluran lain untuk membawa semangat perlawanannya melalui platform yang lebih tinggi dan canggih.

Entahlah, tapi apapun itu, dimanapun dan kapanpun, para konten kreator mestinya bisa memegang prinsip “going voice to the voiceless!”

Itu saja dulu, semoga artikel kelas secangkir kopi kali ini ada manfaatnya, di akhir pekan ini. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s