BERSEPEDA LONE WOLF KE DESA HAMBALANG VIA JALUR TAGANA (KAMPUNG DI BAWAH AWAN)

jbkderry.com – Buat pesepeda kelas secangkir kopi seperti Derry Journey, yang tujuannya naik sepeda santuy dan tidak terlalu jauh jaraknya, namun cukup menguras fisik dan menantang adrenalin, maka jalur ke Desa Hambalang di kawasan pinggiran Bogor adalah rute yang cukup memikat.

Dari jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang lebar dan sebelum tanjakan pertama hingga ke puncak titik 0 km Desa Hambalang itu bisa dibilang minimal 90 persen full nanjak.

Buat Derry Journey yang kualitas sepedanya di bawah rata-rata pesepeda pada umumnya, dibutuhkan waktu sekitar satu jam non stop kalau mau sampai ke atas dari jembatan itu.

Itu belum termasuk jarak dari gerha markas jbkderry.com menuju jembatan itu sendiri yang setidaknya butuh waktu tempuh minimal 1,5 jam. Jadi sederhananya dibutuhkan waktu tempuh minimal berangkat saja sekitar 2,5 jam. Dan kalau jalannya ramai-ramai sesama pesepeda amatir dan pemula, bisa lebih dari itu durasi waktu tempuhnya, karena kondisi fisik dan motivasi bersepeda tiap orang tidaklah sama.

Meski menurut Derry Journey, bersepeda di saat pandemi covid-19 yang makin ngaco kondisinya sebaiknya bersepeda sendiri jadi lebih baik, untuk bisa lebih menghindari potensi terjangkiti pandemi satu ini.

Dalam bersepeda seperti pengalaman pada Kamis 9 Juli 2020, Derry Journey menguatkan kesimpulan jika bersepeda menggunakan buff untuk melindungi areal hidung dan mulut lebih baik ketimbang masker.

Mengapa? Sesuai dengan pengalaman beberapa kali, dengan menggunakan buff, aliran pernapasan tetap berjalan baik selama perjalanan, bahkan saat menaklukkan tanjakan menuju ke Desa Hambalang via jalur Tagana.

Problemnya justru di kacamata (ya seharusnya tetap menggunakan kacamata untuk melindungi bagian wajah dari potensi penyebaran pandemi melalui droplet dan aerosol), karena sesekali bisa berembun dan mengganggu pandangan.

Tapi tidak perlu khawatir dan panik, jika terjadi. Cukup menepikan sepeda dan melapnya lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Bersepeda menuju Desa Hambalang ini terasa indah nian pemandangannnya selepas kawasan Saung Berkarya milik Tommy Soeharto, putra bungsu mantan Presiden RI yang kedua.

Selepas kawasan tersebut, itu terhampar pemandangan alam perbukitan yang sangat indah nian, seperti nampak pada foto di artikel ini dimana ada si Little Wolverine dengan latar alam perbukitan yang indah nian itu.

Nah, kalau mau menikmatinya, di sekitar situ ada kawasan Pesantren. Anda bisa naruh sepeda di depannya (di pinggiran tentu supaya tidak menghalangi jalur keluar masuk), lalu ngelosor dan sejenak melupakan persoalan hidup di bawah sana.

Ya, di sini setiap pesepeda mestinya bisa menikmati keindahaan ciptaan Tuhan, dan bisa bersyukur bisa ada di bumi ini dengan segala karuniaNya.

Ya, toh persoalan hidup pasti akan selalu datang dan memberatkan, tapi setiap manusia mestinya bisa memompa semangat untuk menghadapinya dan mengembalikan kepercayaan diri untuk kembali bertarung di titik didih tertinggi, di antaranya dengan bersepeda di kawasan alam yang indah seperti ini.

Bukankah tidak akan ada sikap dan cara pandang terbaik di saat hati dan pikiran susan gundah gulana. Jadi kuylah bersepeda, nikmati alam, biar sehat dan semangat lagi…

Naik ke atas sedikit akan ketemu “prasasti Candi Hambalang” proyek wisma atlet yang mangkrak, dan saat naik lagi sedikit akan mulai masuk ke perkampungan di bawah awan, Desa Hambalang.

Kawasan perkampungan yang selalu terasa syahdu dan takzim buat Derry Journey. Salah satunya karena para pesepeda akan cukup sering bertemu dengan anak-anak kecil yang melemparkan lambaian tangan dan senyuman ramah, menyambut setiap pesepeda yang melintas di kawasan pemukiman mereka.

Kawasan perkampungan ini juga seperti mengajarkan dan menyampaikan pesan, jika kesulitan hidup dan kesederhanaan menjalaninya, tidak serta mengubur rasa gembira di dalam tiap diri.

Sebuah pelajaran penting dari sebuah kampung di bawah awan seperti Desa Hambalang.

Sesampainya di puncak dan tanjakan terakhir yang paling panjang dan level kemiringannya paling ajib, akan ketemu warung yang menjadi tempat ngumpul para “romli” (rombongan “peseda” liar).

Saat tiba di situ, Derry Journey tidak melihat ada satu pelanggan yang ada, makanya memberanikan diri mampir untuk membeli semangkuk indomie rebus, dua lepet, satu pisang, dan satu tahu goreng.

Tidak berapa lama setelah tuntas isi perut, ada satu pesepeda lain yang datang dan coba beramah tamah. Rupanya bapak itu lagi menunggu kawan-kawannya yang akan menyusul ke situ.

Buat Derry Journey, inilah saatnya cabut secepatnya. Bukan tidak suka menambah kawan baru, tapi sepedaan sekarang tujuannya buat badan tetap sehat dan bugar, bukan tujuan nambah teman baru di tengah kondisi pandemi yang makin ngaco.

Next time deh yah, bapak. Semoga tetap bugar dan sehat selalu, dijauhkan dari mata rantai penyebaran pandemi covid-19 dan semacamnya.

Pas menuju pulang, Derry Journey pun menemukan pemandangan aneh dan janggal, namun terasa akan jadi lazim dan dimaklumi.

Ada pemotor dua gadis berusia belia, yang dibonceng gak pakai helm tapi cuma pake faceshield.

Unik karena faceshield-nya yang lebih kepada ngikutin tren, ketimbang sebagai sebagai perangkat penyelamat. Pasalnya kenapa gak pakai helm saja dan kacanya ditutup.

Aya-aya wae…

Yauweslah, semoga semua yang mampir ke artikel kelas secangkir kopi di akhir pekan ini, Minggu 12 Juli 2020, tetap dikarunia kesehatan dan kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s