NGOBROLIN SEBERAPA CEPAT ERA MOBIL LISTRIK BISA TERJADI DI DUNIA?

jbkderry.com – Dalam setahun terakhir, arus informasi mengenai kendaraan listrik terasa semakin deras ke ruang publik, baik di lingkup global maupun di Indonesia.

Sebenarnya seberapa besar kans era mobil listrik itu bisa terjadi di dunia? Mari ikuti hasil penelusuran media kelas secangkir kopi jbkderry.com di jagat maya…

Hyundai IONIQ Electric saat ini menjadi mobil listrik (BEV) dengan harga paling terjangkau di Indonesia, Rp 569 juta off the road.

Pada 19 November 2019 lalu, sebuah narasi berjudul “Why the electric-car revolution may take a lot longer than expected” diunggah di situs https://www.technologyreview.com/. Dalam artikel itu disebutkan jika prediksi era mobil listrik, baik versi BEV maupun PHEV, belum akan terjadi dalam waktu dekat. Di tahun 2050 saja, populasi mobil listrik diprediksi hanya bisa mencapai persentasi tertinggi 33%.

Sebuah narasi terbaru di situs PV Magazine Amerika yang diunggah pada 19 Mei 2020, dengan judul “The future of cars is electric – but how soon is this future?“, sebenarnya menyebutkan prediksi yang lebih optimistik, yaitu pada tahun 2040 penjualan mobil penumpang yang berteknologi listrik akan mencapai 58%.

Nilai persentasi prediksi itu kabarnya didasarkan dari data Bloomberg New Energy Finance (BNEF). Dalam data BNEF itu juga disebutkan jika saat ini pada saat ini, penjulan mobil listrik di dunia mencapai total 3 persen dari data penjualan mobil penumpang keseluruhan di seluruh dunia. Lalu diproyeksi akan mencapai 10 persen di tahun 2025, lalu naik 28 persen pada 2030, dan tembus 58% di tahun 2040.

Tidak hanya studi mengenai perkembangan mobil listrik yang kabarnya diproyeksi dalam data BNEF. Di tahun 2040, teknologi EV juga akan berkembang di sektor otomotif secara lebih luas, sebagai berikut 67% di sektor bus, 47% di sektor sepeda motor, dan 24% di sektor kendaraan komersial.

Perlu edukasi lebih lanjut untuk memahami lebih baik prinsip kerja dan karakter berkendara bersama motor listrik.

Secara umum, data BNEF menyebutkan pada tahun 2040 diprediksi akan ada 500 juta orang yang akan menggunakan transportasi kendaraan listrik. Namun ada juga data yang unik, karena disebutkan pula jika antusiasme publik terhadap kendaraan dengan sistem pembakaran mesin berbahan bakar fosil tetap lebih tinggi ketimbang kendaraan berteknologi listrik.

Proyeksi pasar mobil listrik sendiri masih akan didominasi oleh Cina dan Eropa. Sementara di Amerika Serikat diproyeksi pasarnya tidak akan sepesat di kedua wilayah tersebut, khususnya terkait ketersediaan fasilitas infrastruktur pendukung yang masih terbatas. Ya, hingga tahun 2030, Amerika Serikat dikabarkan belum ada proyeksi besar dalam pengembangan infrastruktur pendukung.

Situasi di Amerika Serikat ini juga tidak terlepas dari fakta jika cukup tingginya nilai persentasi perumahan di Amerika Serikat sendiri yang bisa memasang fasilitas pengisian daya mandiri di rumah masing-masing.

Mitsubishi i-MiEV berpose di depan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di BPPT.

Sementara di dua negeri terkemuka di Asia, dalam hal ini Korea Selatan dan Jepang, punya tantangan tersendiri. Di Korea Selatan, kebijakan pengembangan kendaraan listrik sangat memerlukan keseriusan pihak pemerintah dalam pembentukan kebijakan pendukung. Sementara di Jepang, bentuk kendala lainnya justru datang dari pelaku industrinya sendiri yaitu Honda, Toyota, Mazda, dan Subaru yang dikabarkan justru agak ketinggalan dalam hal pengembangan teknologi listrik pada kendaraan.

Sebuah narasi lain yang lebih baru diunggah oleh situs https://www.scientificamerican.com/ pada 29 September 2020, dengan judul “Ninety Percent of U.S. Cars Must Be Electric by 2050 to Meet Climate Goals“, Amerika Serikat sendiri akan mulai mencapai pasar mayoritas untuk kendaraan listrik (untuk kategori kendaraan ringan) pada tahun 2050, dengan nilai persentasi hingga 90% dari total market.

Tantangan lain dari pasar mobil listrik saat ini sendiri adalah pada harga jual ke konsumen yang rata-rata masih lebih tinggi dibanding mobil sekelas yang masih menggunakan sumber bahan bakar fosil.

Sebuah narasi berjudul “Electric Cars Are Estimated to Be Cheaper Than Regular Cars by 2022” yang diunggah pada 29 April 2019 di situs https://singularityhub.com/, menyebutkan jika di tahun 2022 mendatang, berdasarkan data dari BNEF, harga mobil listrik dengan kelas yang sama sudah bisa dibeli lebih terjangkau ketimbang mobil sekelas yang masih menggunakan mesin konvensional.

Kira-kira itu saja dulu hasil penelusuran media kelas secangkir kopi jbkderry.com untuk hari pertama di bulan November 2020 ini. Semoga ada manfaatnya, terima kasih telah mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s