NGOBROLIN PENETRASI TERKINI HYUNDAI DAN KIA DI INDONESIA DALAM SECANGKIR KOPI

jbkderry.com – Dua merek otomotif asal Korea Selatan ini punya perjalanan yang lagi enak diobrolin saat ini di Indonesia.

Meski di negeri asalnya, merupakan dua merek yang berafiliasi dalam satu grup (Hyundai Kia Automotive Group), namun sama halnya di negeri manapun, keduanya bertarung sendiri-sendiri di pasar.

Nah, di Indonesia sendiri, perjalanan kedua merek itu bisa disebut telah berpindah status kepengurusan.

Kia, pada tahun 2019 lalu, status distributor resminya telah berpindah kepemilikan dan kini berdiri di bawah bendera Indomobil Group dengan nama perusahaan PT Kreta Indo Artha.

Sementara Hyundai juga kini status induk kepengurusannya langsung diambil alih oleh pihak prinsipal dengan nama PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), bukan lagi masuk lewat jalur distribusi resmi yang dikenal lewat nama bendera perusahaan PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI).

Unik kemudian diperbincangkan lebih lanjut adalah strategi pasar dari kedua merek tersebut di Indonesia.

Kia Bertarung di Pasar Lebih Populer & Harga Lebih Terjangkau

Kia dari informasi di situs resminya nampak lebih fokus bermain di segmentasi pasar yang lebih diminati dan lebih terjangkau dari segi harga. Hanya Grand Sedona yang menjadi satu-satunya model yang dipasarkan di atas harga Rp 500 juta per unit.

Simak saja “mainan” barunya, Kia Sonet yang diperkenalkan di awal November 2020. Bermain di segmen sub-compact SUV, Kia Sonet jelas menghadirkan potensi market yang lebih besar untuk memikat hati konsumen di rentang harga Rp 200 jutaan.

Dengan harga tipe tertinggi (tipe Premiere iVT) Rp 289 juta (on the road Jakarta, untuk November 2020 dan bisa berubah sewaktu-waktu), Kia Sonet bisa menggoda potensial konsumen Toyota Rush, Daihatsu Terios, Suzuki XL-7, Mitsubishi Xpander Cross, dan Honda BR-V.

Kalaupun disebut masih terlalu muluk untuk diperbandingkan dengan merek-merek asal Jepang di atas, setidaknya Kia Sonet bisa sangat mengganggu potensi pasar dari merek-merek asal Tiongkok, dalam hal ini Wuling dan DFSK.

Ya, secara prestise merek dan nilai reliabilitas secara umum, merek asal Korea Selatan masih dapat dikatakan lebih populer di persepsi publik ketimbag merek asal Tiongkok.

Kehadiran Sonet, membuat Kia Indonesia punya senjata lain selain kakaknya Seltos untuk bermain di segmen light SUV yang tengah makin populer di Indonesia. Bukan tanpa argumentasi, di tahun 2021 kabarnya duo Toyota – Daihatsu pun akan membawa mainan barunya di Jepang yaitu Toyota Raize dan Daihatsu Rocky di segmen yang sama.

Secara potensi, Kia Sonet di atas kertas bisa sangat mengganggu potensi konsumen Wuling Cortez dan Wuling Almaz, serta DFSK Glory.

Hyundai: Coba Bermain di Level dan Klasifikasi Harga Lebih Tinggi

Berbeda dengan merek saudaranya di atas, langkah Hyundai di Indonesia menurut media kelas secangkir kopi ini bisa dikatakan membingungkan.

Pasalnya masuk di bawah bendera prinsipal, harga lineup model Hyundai di Indonesia justru naik. Semisal Hyundai Kona waktu diperkenalkan lewat bendera distributor resmi PT Hyundai Mobil Indonesia pada tahun 2019 di harga Rp 360an juta, kini malah merangkak di harga 380an juta di bawah bendera perwakilan prinsipal langsungnya. Ada nilai kenaikan di atas Rp 25 juta per unit dalam kurun waktu setahun.

Lalu Hyundai IONIQ Electric yang sempat diperkenalkan ke sejumlah media pada awal tahun 2020 dengan harga Rp 569 juta off the road, di bulan November 2020 ini di situs resmi HMID justru ada di harga Rp 624,8 juta (tipe Prime) dan Rp 664,8 juta (tipe Signature), on ther road Jakarta (harga bisa berubah sewaktu-waktu).

Sementara Hyundai Kona Electric ditempeli stiker harga lebih tinggi lagi, Rp 674,8 juta.

Ya, katakanlah ini menjadi model kendaraan listrik paling terjangkau di Indonesia, namun sejumlah pertanyaan patut dibahas dari sudut potensial konsumennya.

Terlepas kemudian saat artikel ini dibuat, nama Kona Electric cukup populer diperbincangkan di dunia maya setelah dibeli oleh salah satu pesohor di dunia otomotif Fitra Eri, tapi pertimbangan logika tentu cukup kuat melatarbelakangi potensial konsumennya.

Di rentang harga Rp 600 jutaan, pilihan model dari merek-merek lain bisa sangat berpotensi membalikkan keputusan konsumen. Duit Rp 600 juta beli Honda CR-V tipe tertinggi masih bisa dapat kembalian, atau tambah Rp 27,2 juta dari harga Kona Electric sudah bisa dapat tipe tertinggi Mitsubishi Pajero Sport Dakar (4×4) AT.

Dan kalau secara perbandingan apple-to-apple katakanlah dengan nilai merek yang setara, line-up mobil listrik dari Hyundai itu masih berpotensi diganggu oleh rival selevelnya di Indonesia, yakni Mazda.

Dengan rentang harga Rp 600an juta hingga Rp 700 juta, potensial konsumen mobil listrik Hyundai masih bisa berpaling ke dua model SUV dari Mazda, yaitu CX-5 (ini malah ada di harga Rp 500 jutaan) dan CX-8.

Atau malah kalau sudah memang kepincut Hyundai, bisa sangat mungkin pilihan akhirnya dijatuhkan pada Santa Fe, mengingat harga varian tertingginya masih bisa lebih sedikit berhemat yang dibanderol Rp 594 juta on the road Jakarta (harga bulan November 2020).

Pertanyaan lainnya, ada berapa banyak potensial konsumen line-up mobil listrik Hyundai yang berani mengambil langkah keputusan membeli seperti Fitra Eri, dan seberapa banyak unit mobil listrik Hyundai yang diharapkan dan bisa terjual oleh jaringan dealership HMID ke konsumen sebelum pabrik mereka resmi beroperasi kabarnya di akhir tahun 2021 atau awal 2020?

Untuk hal ini, tentu menarik menunggu dan melihat respon pasar otomotif di Indonesia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s