NGOBROLIN POTENSI PASAR MOBIL BARU DI INDONESIA TAHUN 2021

jbkderry.com – Kecepetan yah?

Tapi karena sudah dua hari kehabisan bahan yang bisa diolah, dan kiriman rilis-rilis pers dari produsen kurang menarik, akhirnya topik ini yang mencuat di awang-awang redaksi media kelas secangkir kopi ini.

Mari mulai…

Berawal dari kata kunci “forecast automotive industry 2021” ketemulah beberapa sumber infomasi yang nampaknya menarik buat dikupas kelas secangkir kopi kali ini.

Di Indonesia sendiri, pasca puncak nyusruk di bulan Mei 2020, pasar mobil baru di Indonesia mulai menggeliat kembali, meski belum sebesar data penjualan di tahun 2019 lalu. Data ini setidaknya jbkderry.com dapatkan dari situs https://tradingeconomics.com/ (bisa dilihat di sini).

Kabar cukup baik ini juga ditunjang dengan data dari Bank Dunia pada 1 Juli 2020 lalu, dimana untuk pertama kalinya pendapatan per kapita di Indonesia bisa menembus angka US$4.000, atau tepatnya di angka US$4.050.

Artinya, meski didera sejumlah persoalan seperti potensi disrupsi di dunia usaha, tekanan pandemi Covid-19, serta ancaman resesi, masih ada indikator yang bisa dikategorikan angin segar untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat di Indonesia di tahun mendatang.

Dari seorang kawan menjabat sebagai salah satu petinggi di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif menyebut, jika pasar yang paling aman tetap ada di kelas menengah atas. Katakanlah pasar mobil di atas Rp 500 juta per unit, karena menurutnya tidak terlalu terdampak pada merosotnya kemampuan daya beli.

Meski di sisi lain, menurut analisis kelas secangkir kopi jbkderry.com, potensi pasar di atas Rp 500 juta tentu tidak bisa serta merta dijadikan volume maker dari para produsen. Sudah jadi rahasia umum, jika volume penjualan terbesar datang di kelas harga di bawah Rp 300 juta per unit.

Jumlah pemain yang tergiur bermain di bawah rentang harga di bawah Rp 300 juta pun kini tidak hanya dilirik oleh para pabrikan Jepang. Ada produsen asal Tiongkok yaitu Wuling dan DFSK, serta Kia melalui produsen barunya juga baru saja melontarkan Sonet untuk berharap mendapat potongan kue di segmen harga terpopuler.

Pertanyaan, masih adakah potensi pasar di bawah Rp 300 juta per unit, di tengah tekanan disrupsi, pagebluk, dan ancaman resesi? Jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) terkini, jumlah pelaku usaha UMKM di Indonesia jumlah terus meningkat, dan di tahun 2020 ini kabarnya sudah mencapai angka 64 juta pelaku usaha di sektor tersebut.

Meski kabarnya ada sekitar 30 persen dari populasi itu yang kabarnya terpukul karena tekanan dampak pandemi, dan baru di angka 13 persen atau sekitar 8 juta di antaranya yang sudah disebut melek model transaksi digital, namun keberadaannya sudah banyak literasi menyebutkan merekalah sebenarnya garda pertahanan ekonomi bangsa selama ini.

Nah, dengan utak-atik data itu, potensi pasar otomotif di tahun 2021 rasanya bisa kembali pulih, meski mungkin belum bisa melewati pencapaian di tahun 2019.

Lantas pasar mobil baru seperti apa yang masih prospektif? Meski, wacana mobil listrik terus “digoreng” oleh pihak pemerintah, media massa, dan para K.O.L kondang, namun hitungan realistisnya masih cukup lama (mungkin setelah 5 tahun mendatang) untuk bisa memberikan sumbangsih atau kontribusi signifikan. Mungkin kalau harga mobil listrik sudah bisa ada di angka kisaran Rp 300 jutaan, prospeknya baru bisa mulai cerah…

Kalau dilihat strategi promosi para produsen mobil di bawah Rp 300 juta per unit, makin banyak menawarkan fitur-fitur yang bervariatif, meski menurut jbkderry.com, untuk urusan kenyamanan berkendara dan fitur keselamatan yang katakanlah bisa memenuhi standar Eropa di EuroNCAP tidak bisa diharapkan lebih di kategori rentang harga tersebut.

Sederhananya, pasar di bawah Rp 300 juta masih memandang mobil baru sebatas alat transportasi.

Nah, kalau sudah demikian model-model kendaraan yang masih berpotensi meraih penjualan besar masih nama-nama model pemain lama seperti Toyota Avanza, Toyota Calya, Toyota Rush, Honda Brio, Mitsubishi Xpander, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla.

Mungkin kalau Toyota jadi membawa Raize dan Daihatsu membawa Rocky di tahun 2021 mendatang, dengan asumsi di bawah Rp 300 juta per unit, bisa jadi volume maker baru kedua merek asal Jepang itu.

Sementara merek-merek di luar Jepang, yang masih punya potensi seperti model kendaraan dari Wuling melalui Confero, atau Kia melalui Sonet. Meski realistisnya, potongan kue yang bisa didapatkan tidak sebesar merek-merek asal Jepang di atas yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat.

Apalagi di tengah situasi yang berubah begitu cepat, ada kalimat khas di masyarakat, “Buat apa coba-coba hari ini gini?!”

Ya, suka gak suka, konsumen di Indonesia secara umum cenderung main aman, apalagi di kondisi seperti saat ini.

Bagaimana menurut kalian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s