Terima Kasih Tigi

Pada satu titik segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia harus berakhir, dan dimulai dengan sesuatu yang baru. Inilah aturan hukum alam.

Ya, rasanya berat saat akhirnya memutuskan harus melego si Tigi, sebuah Honda Tiger keluaran tahun 2004. Saat membelinya tujuh tahun silam di tahun 2004, Tigi seperti memang ditakdirkan menjadi milikku. Dia kubeli pada tanggal 3 November, seperti tanggal kelahiranku. Continue reading “Terima Kasih Tigi”

Welcome Aboard, Muhammad Arasy Akiyory

Muhammad Arasy Akiyory (Normal 4,2kg 53cm)

Sayang ayah harus menyelamatkan kakakmu dulu, sehingga tak sempat melihatmu keluar dari rahim bundamu.

Jumat, 21 Oktober 2011, ayah harus membawa kakak Oka-mu kembali ke Jakarta. Tanpa mengurangi rasa sayangku padamu, ksatria kecilku, tapi ini pilihan yang pelik. Di bus, kakakmu sempat kambuh dua kali. Ia adalah Dewi Bidadari ayah. Sedih rasanya tidak bisa mengawal kehadiranmu menyapa dunia ini. Dari jarak ratusan kilometer, ayah titipkan sepenggal Surah Yusuf sebagai doa untukmu. Continue reading “Welcome Aboard, Muhammad Arasy Akiyory”

Memoar of Igor

      Entah bagaimana aku harus mengingatmu melalui kata, saudaraku. Persaudaraan di jalanan di bumi Makassar bukanlah diumbar melalui kata, tapi melalui sikap dan perbuatan, “Sakitmu sakitku dan demikian pula sebaliknya!” Dan ketika engkau berpamitan “pulang” duluan tepat sebulan lalu, 2 September 2011, aku merasa sangat sedih dan sunyi.

     Sepenggal pernyataan kawan kita Yusran pun aku modifikasi sedikit untuk melukiskan rasaku. “Aku merasa sebagian diriku ikut pergi.”

Kala ayahku pergi, aku sedih karena merasa belum jadi anak yang baik dan berbakti. Kala anakku yang kedua keguguran, aku sedih dan sempat murka pada Allah SWT. Ujarku kala itu, “Ya Allah, mengapa engkau merenggut anakku, apakah aku belum pantas menjadi orang tua yang baik untuknya!”

Kala momen kedua itu, aku sedih, marah, gusar, dan akhirnya ikhlas. Dan ketika kabar “kepulanganmu” wahai saudaraku sampai di telingaku tepat sebulan lalu, aku merasa sebagian diriku ikut pergi seperti kata Yusran. Aku tiba-tiba merasa lebih ikhlas menjalani hidup dan konsekuensinya. Kau telah mengajarku untuk lebih lapang, aku rasa ini pesan dan pembelajaran terakhirmu untukku, saudaraku. Continue reading “Memoar of Igor”

Ain’t That Good News

Bukan kabar baik di tengah waktu menghitung hari jelang Lebaran 2011. Luka adik kecilku adalah lukaku juga. Meski sudah terprediksi dari awal, namun saat terjadi hati ternyata tetap berisi darah yang akan menyemburkan sedih dan luka saat terkuak.

Kini hidup tetap harus berjalan ke depan sebagai titipan Illahi, meski pasti hati pedih dan tatapan nanar dari keputusan manusia tanpa nurani, hati, dan akal budi. Dua anak dewa, tegar-tegarlah, nak. Bersama Mama-mu tersayang, kuatkanlah hati saling berbagi dan menghibur. Kelak kalian akan berbagi cita dan bahagia, tanpa si keparat tak tahu diri itu. Dan dunia tetap akan indah, bahkan lebih indah tanpanya. Amien.