Motivator, Pemuka Agama dan Penjual Ayat Tuhan

Sumber foto: http://images6.fanpop.com/image/photos/32800000/space-wallpaper-space-32897730-1920-1080.jpg
Sumber foto: http://images6.fanpop.com/image/photos/32800000/space-wallpaper-space-32897730-1920-1080.jpg

Rasanya sudah banyak yang tahu dengan nama – nama motivator berikut; Mario Teguh, Tung Desem Waringin, James Gwee, atau Andrie Wongso. Para motivator tersebut semakin dikenal karena kemampuannya menggugah semangat hidup para pendengarnya.

Tidak heran jika kemudian mereka dibayar mahal, karena secara makro dapat disebut wawasan yang disampaikan oleh para motivator tersebut untuk kepentingan kiat mencapai kesuksesan di bumi manusia.

Continue reading “Motivator, Pemuka Agama dan Penjual Ayat Tuhan”

Hikmah Mudik Lebaran

Blog_lebaran
Bersama mertua dan adik – adik ipar di Ciamis

Semestinya setiap warna patut mendapat apresiasi, sepanjang tidak mengibiri warna lainnya dan tidak membahayakan jiwa – jiwa yang ada.

Minggu, 4 Agustus 2013

Hari itu sekitar empat hari menjelang perayaan Idul Fitri 1434 Hijriah yang jatuh pada 8 Agustus 2013. Dalam skala besar, penduduk Jakarta dan sekitarnya mulai meninggalkan wilayah ibukota Indonesia. Sebenarnya, antusiasme mereka sudah terjadi sejak hari Kamis, 1 Agustus 2013.

Bandara Soekarno Hatta disebut tidak ada bedanya dengan suasana terminal bus, karena disesaki penumpang. Pelabuhan Merak diramaikan dengan antrean berkilometer kendaraan, agar dapat menyeberang ke pelabuhan Bakauheni, Lampung. Jalur utara Jawa (non tol) diramaikan antrean kendaraan roda dua. Sementara jalur khusus kendaraan roda empat, baik jalur utara dan selatan, mulai dilaporkan padat di berbagai media tivi.

Di rumahku yang berada di sebelah selatan Jakarta masih subuh, matahari belumlah nampak. Namun yang jelas aktivitas di dalamnya sudah berjalan. Ya, aku, istriku, putri sulung Oka (5 tahun), putra gantengku Rasy (2 tahun), dan si bungsu yang gagah Keanu (3 bulan) juga telah bersiap.

Continue reading “Hikmah Mudik Lebaran”

68 Tahun, Jayalah Selalu Indonesia-ku

sumber foto: http://www.cegelec.co.id/cegelec-in-indonesia/
sumber foto: http://www.cegelec.co.id/cegelec-in-indonesia/

Banyak yang tidak terungkap selama berdirinya negara ini, dan kita sudah biasa (atau dipaksa sebagai budaya) untuk melupakan. 17 Agustus 2013, Indonesia disebut akan merayakan hari kemerdekaan ke-68.

Indonesia, sungguhkah kau ada? Memoriku merekam jejak tentang nasionalisme dan patriotisme di jaman kuliah dulu. Dari film “The Brave Heart” (1995) dan “The Patriot” (2000), dikisahkan jika konon perang kemerdekaan Skotlandia di abad 13 (1296 – 1328) dan Amerika Serikat di abad ke-18 (1775 – 1783) memiliki kemiripan dengan upaya kemerdekaan Indonesia. Continue reading “68 Tahun, Jayalah Selalu Indonesia-ku”

Menyusuri Wisata Alam Batu Karas & Situ Patenggang

Image
Pantai Batu Karas, 11 September 2012

Sudah lama ide artikel ini mengendap di kepala. Tepatnya sejak bulan September 2012. Saat itu PT Ford Motor Indonesia, Agen Pemegang Merek Ford di Indonesia meminjamkan seunit All New Ford Ranger XLT 4×4 berkelir Aurora Blue bertransmisi manual enam percepatan.

Sebagai informasi, di Jakarta mobil bergenre desain pikap dobel kabin ini ditempeli stiker harga Rp 355,5 juta (on the road). Artinya berada di atas harga favorit umumnya konsumen di Indonesia (baca: di bawah Rp 250 juta). Itu pulalah yang menjadikan perjalanan kali ini cukup istimewa.

Mobil ini juga seketika mengingatkanku pada duo sosok imajiner ala Hollywood, Harley Davidson and Marlboro Man yang diproduksi tahun 1991. Bayangan akan duo heroik imajiner ini pulalah yang menyertai selama empat hari tiga malam (10 – 13 September 2012), bersama seorang rekan fotografer muda handal asal Jogja, Setyo Adi Nugroho.

Rute pun ditentukan, yakni kawasan wisata pantai Batu Karas dan Situ Patenggang. Keduanya berada di wilayah Jawa Barat. Mengapa? Rasanya suasana wisata alam mampu mengendapkan rasa sesak dan penat para warga Jakarta dan sekitarnya, seperti kami. Continue reading “Menyusuri Wisata Alam Batu Karas & Situ Patenggang”

Ras, Agama dan Sampah

“Memang kenapa kalau terlahir China?” Ini menjadi bentuk perlawanan atau protes umum yang kerap mencuat dari orang – orang yang ditakdirkan terlahir dengan ras China.

Yah, entah dengan cara apa pihak lain bisa menyadari hal ini, terlebih jika pihak yang menempelkan streotipe ini adalah para orang – orang yang mengaku sebagai perwakilan agama mayoritas.

Sebuah asumsi yang sangat ceroboh tentunya, karena jika orang China memeluk agama Anda berarti selesai khan menurut Anda?! Persoalannya tentu tidak selesai dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.

Cara berpikirnya gampang saja, orang – orang lain yang juga warga negara sah dari negeri bernama Indonesia, juga menjadi refleksi dan cermin mengenai eksistensi para orang – orang yang mengaku pemuka agama itu.

Di saat yang sama Anda merefleksikan cahaya sebagai pelaku korupsi, kolektor barang – barang / kendaraan mewah, penggemar prostitusi dan poligami, koruptor, dan berbagai rupa hitam lainnya. Entah bagaimana paradigma berpikir orang – orang ini mengenai kemampuan orang lain melihatnya, tapi respon di berbagai media sosial justru menimbulkan rasa antipasti.

Andai saja agama memang memperbolehkan poligami, apakah itu memang mutlak diikuti?! Andai saja agama memang memperbolehkan poligami, apa iya hanya karena kebutuhan seksual semata seperti Anda?!

Hanya karena demokrasi, semuanya tiba – tiba bebas bersuara. Mau itu suaranya seperti bebek, baunya seperti kentut, yang penting bicara. Mau  isi suaranya itu malah buat keruh, mikirnya pakai perut, yang penting ngomong.

Tiba – tiba jadi ingat trek sampah yang lewat depan rumah tadi pagi, baunya sama, namun orang – orang yang membawanya terasa lebih mulia dan berguna bagi orang lain.

BSD, August 2nd 2013